Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Urgensi Al Wala' wal Bara'

Oleh Syaikh Dr. Hani bin Muhammad as-Siba‘i

Secara global, makna Al-Wala’ wa Al-Bara’ adalah cinta dan benci, yaitu kecintaan dan kebencian karena Allah ta’ala. Keduanya juga menjadi dasar keimanan dan berpengaruh pada aqidah Islam. Sebagaimana hati yang memiliki bermacam fungsi bagi anggota tubuh yang lain, Al-Wala’ wa Al-Bara’ juga memiliki fungsi yang bermacam-macam. Yaitu mencakupi seluruh konsep dan persoalan hidup umat Islam. Sebagaimana firman Allah SWT, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Jika kehidupan seorang muslim itu harus diperuntukkan hanya untuk Allah semata, maka tentunya seluruh ibadah, gerak-gerik hidupnya, diamnya dan aturan hidupnya semuanya diserahkan kepada aturan yang dikehendaki oleh Allah semata. Sebagaimana termaktub dalam sebuah ayat: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Urgensi Al-Wala’ wa Al-Bara’  

Melihat dari segi urgensitasnya, Al-Wala’ wa Al-Bara’ memiliki ikatan erat dengan keimanan. Keduanya selalu berjalan secara beriringan. Sehingga, ketika mengkaji permasalahan  Al-Wala’ wa Al-Bara’ maka sama saja mengkaji permasalahan iman itu sendiri. Dalam penerapannya pun, aqidah Al-Wala’ wa Al-Bara’ memiliki kaitan erat dengan beberapa permasalahan hukum dalam realitas kehidupan umat Islam, khususnya dalam masalah memerangi orang-orang kafir.

Ringkasnya, tema Al-Wala’ wa Al-Bara’  bagaikan pondasi utama dalam bangunan Islam dan tidak pernah terpisahkan dari ikatan iman. Peran penting tema bahasan ini akan mudah dipahami ketika  menjalankan beberapa ketentuan hukum Islam, serta menghadapi problematika umat Islam yang semakin komplek pada saat ini.

Hubungan Al-Wala’ wa Al-Bara’  dan Beberapa Prinsip Syariat Islam

Al-Wala’ wa Al-Bara’ merupakan konsep dasar dalam memahami cinta dan benci yang dibangun karena Allah ta’ala. Sebagaimana dalam hadits disebutkan, ia menjadi “Ikatan iman yang paling kuat.” Sayangnya, aqidah ini mulai terkikis dan pudar dalam diri mayoritas kaum muslimin hari ini. Cinta dan benci karena Allah sudah tidak lagi dipedulikan, sehingga mengaburkan pemahaman terhadap musuh sebenarnya.

Selain bagaimana memahami konsep cinta dan benci karena Allah, Al-Wala’ wa Al-Bara’ memiliki kaitan erat dalam memahami konsep nasionalisme atau kebangsaan. Terlebih ketika sebagian orang menganggap cinta terhadap tanah air sebagai bagian dari cinta terhadap agama. Ketika dua kepentingan bertemu –antara cinta tanah air dan cinta agama—yang lebih diprioritaskan justru cinta kepada tanah air, bukan agama.

Persoalan ini termasuk permasalahan yang cukup serius dalam kalangan mayoritas umat Islam. Karena, konsep nasionalisme ini telah merusak prinsip persaudaraan dalam Islam. Sikap loyal atau cinta antar sesama hanya dibangun atas dasar wilayah negara. Ikatan persaudaraan dibatasi oleh tembok-tembok batas wilayah. Pembelaan terhadap sesama penduduk negara lebih dikedepankan meski berbeda keyakinan. Sementara kaum muslimin yang berada di luar batas wilayah tidak perlu dipedulikan.

Konsep ini kemudian menjadi seperti sebuah usaha pembodohan umat tentang Sykes-Picot, serta pengerdilan umat tentang konsep bersosial dan bernegara. Maka, muncullah sebutan-sebutan “ini orang Mesir” atau “ini orang Aljazair” dan sebagainya. Seluruh persoalan hanya mengacu kepada batas garis tutorial, satu negara, satu bahasa dan satu wilayah. Sementara di luar batas itu tidak penting meski memiliki hubungan keimanan. Tidak mengherankan, jika sesama negara Islam bisa saling menyerang satu sama lain hanya karena batas tutorial negara.

Konsep Al-Wala’ wa Al-Bara’ juga memiliki hubungan erat dalam memahami hakikat musuh yang sebenarnya, serta bagaimana memprioritaskan musuh yang akan dihadapi. Permasalahan ini akan dikaji lebih mendalam. Terutama ketika sekarang ini beberapa pemimpin gerakan Islam dan para ulama ada yang membolehkan untuk saling menolong dan berkoalisi dengan musuh dalam negeri untuk memerangi musuh dari luar yang lebih besar.

Kemudian yang terpenting juga dari tema ini adalah ketika menyangkut ketentuan hukum seputar Jasus (menjadi mata-mata orang kafir), serta bagaimana hukum berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara kafir. Oleh karena itu, pembahasan ini bukan hanya seperti pelajaran seni atau sekedar wawasan yang bisa dipelajari semaunya saja. Namun lebih daripada itu, pembahasan ini menjadi tema yang cukup penting, karena menyangkut aqidah yang harus diyakini oleh setiap umat Islam.

Syaikh Hamd bin Atiq berkata, “Adapun membenci orang kafir dan orang musyrik merupakan keharusan yang telah diwajibkan oleh Allah ta’ala, dan dengan tegas Dia melarang untuk bersikap loyal terhadap mereka. Oleh karena itu, tidak ada satupun hukum di dalam Al-Qur’an yang paling banyak dalilnya dan paling jelas keterangannya—setelah kewajiban tauhid—selain hukum ini (Al-Wala’ wa Al-Bara’).”

Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (Al-Baqarah; 11)

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya di antara bentuk rusaknya dunia adalah ketika orang mukmin mengangkat orang kafir sebagai pemimpin.”

Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Al-Anfal: 73)

Dengan demikian, terputuslah seluruh bentuk loyalitas antara orang mukmin dengan orang-orang kafir. Perintah tersebut juga ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam ayat yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/ pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin…” (An-Nisa’: 144)

Karya Ulama tentang Al-Wala’ wa Al-Bara’

Selain disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, ketegasan hukum ini juga dijelaskan oleh para ulama. Meskipun pada masa ulama salafus shalih tidak ada karya khusus yang menjelaskan tema ini, namun tidak sedikit dari kitab-kitab mereka yang menyelipkan pembahasan ini. Di antaranya adalah; kitab Asy-Syifa’ karya Qadhi Iyadh, Iqtidha’ Shiratal Mustaqim, Al-Firaq Baina Auliya Ar-Rahman Wa Auliya’ Syaithan dan Sharimul Maslul Fi Syatimir Rasul karya Ibnu Taimiyah, juga Ahkamu Ahl Adz-Dzimmah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Kemudian, tema ini baru dibahas dalam bentuk karya khusus pada masa Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, yaitu dalam risalahnya; Ad-Dalail Fi Hukmi Muwalah Ahli Dzimmah dan Autsaqu Ural Iman. Kemudian ada juga kitab Sabilun Najah Wa Fukkak Min Muwalati Murtaddin Wa Ahlul Isyrak karya Syaikh Hamd bin Ali bin Atiq (1227-1301 H).

Lalu kitab Ad-Dawahi Al-Madahiyah Fil Firqoh Al-muhammiyah Fi Al-Wala’ wa Al-Bara’  karya Syaikh Abu Muwahib Ja’far Bin Idris Al-Kitani (1246 H), Al-Al-Wala’ wa Al-Bara’  Fil Islam karya DR. Muhammad Bin Sa’id Al-Qahtani, Al-Muwalah Wal Mu’adah Fi Syari’atil Islamiah karya Dr. Mihmas bin Abdullah bin Muhammad dan karangan-karangan lain yang tak terhitung jumlahnya.

[Disalin dari https://m.kiblat.net/2015/08/26/daurah-ilmiah-bersama-dr-hani-as-sibai-1-urgensi-al-wala-wa-al-bara/]

Penulis: Hani As Siba'i

Alfatawa.ID | @alfatawaid