Undang-Undang Media

Panduan Umum bagi Jurnalis

Media adalah bentuk dakwah kepada Allah, maka usaha ini harus mengacu pada fikih, adab, dan akhlak seorang dai kepada Allah. Media juga merupakan bentuk dari perjuangan, maka hendaknya ia harus mengacu pada fikih, akhlak, dan adab seorang pejuang di jalan Allah. Seorang pelaku media harus berperilaku layaknya muslim yang sempurna karena alat dakwahnya adalah kalimat, maka kalimatnya mestilah menjadi gambaran Islam yang sempurna.

Konten media perjuangan haruslah memenuhi unsur (sebagai berikut):

1. Konten tulisan harus jujur, meliputi semua kategori makna kejujuran. Jujur dalam menukil realitas dan menyebarkannya. Juga jujur dalam mengolah kata bermuatan sastra (ber-balaghah), hendaknya mengacu pada perasaan dan esensi yang benar, dan jujur dalam memberikan gambarannya. Konten tulisan haruslah memiliki kesesuaian makna dan harus menggunakan cara pujian yang benar (tidak berlebihan) dalam syair ketika memuji sehingga makna yang diberikan kalimat tidak melenceng jauh dari kaidah mubalaghah dan tidak ambigu. Dalam hal ini tidak bisa diterapkan kaidah “bolehnya berbohong kepada musuh dalam kondisi perang”. Persoalan ini memiliki acuan fikih tersendiri dan batasan-batasannya. Kaidah di atas lebih berhubungan pada jajaran pemimpin daripada divisi media, maka haruslah ada pengawasan para pemimpin pada awak media perjuangan.

2. Konten tulisan hendaknya jangan rumit dan berat, harus mudah dipahami dan sederhana sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang pada umumnya. Konten tulisan haruslah memaparkan hujah dan bukti dalam segala kategori rilisan yang sesuai dengan kapasitas pemahaman. Dan hendaknya materi-materi konten tidak menyebabkan kesalahpahaman, ambiguitas, atau kompleksitas makna.

3. Konten tulisan hendaknya santun dan lembut dan tidak kasar serta kurang adab.

“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari.” (Muttafaqun ‘Alaih)

4. Konten tulisan hendaknya menarik dan atraktif, tetapi tetap tidak boleh malampaui batasan-batasan syariat atau kode etik yang berlaku.

5. Konten tulisan hendaknya kuat dalam sifat tawadhu’ dan kelembutan serta jauh dari sikap kasar dan arogan.

6. Konten tulisan harus berakhlak, multazim, dan beradab.

7. Konten tulisan harus bersih, suci, dan menjujunjug tinggi keluhuran. Harus jauh dari omong kosong dan retorika tidak masuk akal serta dekadensi dalam kalimat atau pembahasan.

8. Konten tulisan harus mengandung nilai-nilai kasih sayang, kebaikan, dan simpati kepada manusia. Yang digambarkan dan diuraikan dengan kalimat-kalimat yang lembut, berakhlak, dan penuh cinta dan harapan agar manusia mendapatkan hidayah dan mengharapkan kebaikan untuk mereka.

9. Konten tulisan haruslah mengandung pesan agama dan dunia serta realistis. Mampu menyentuh nurani manusia, menyentuh kepekaan dan keprihatinan pikiran mereka, kemudian mengobati dan memberikan penawar bagi mereka melalui pesan kita sebisa mungkin.

10. Konten tulisan harus mampu dicerna umumnya manusia atau umumnya masyarakat untuk semua kelas, baik kaum elit maupun yang awam, untuk remaja maupun dewasa, dan untuk pria maupun wanita.

11. Konten tulisan harus mengirim pesan positif, bukan semata-mata untuk membalas dendam. Hendaknya konten bukan semata-mata sebagai pembelaan diri, tapi sebisa kalian jadikan ia serangan opini kepada musuh.

Hal-Hal Penting Berkaitan dengan Media Online

1. Bagaimanakah caranya kita bisa meningkatkan level generasi pejuang kita (para pemuda, anak-anak pejuang secara umum, dan pendukung perjuangan dan para simpatisan)?

Yaitu dengan meningkatkan standar dalam manhaj, pemikiran, perhatian, ambisi dan cita-cita mereka, level adab dan akhlak mereka, tingkat perasaan dan emosi mereka hingga menjadi terdidik secara sempurna dan terhimpun di dalamnya segala kebaikan, tanpa kita memadamkan semangat dan ghirah dan kepahlawanannya untuk agama, kehormatan, dan kemuliaan. Contoh yang jelas untuk itu adalah mengoptimalkan fungsi member forum-forum perjuangan.

2. Mengoptimalkan pengembangan dan peningkatan untuk melaksanakan media perjuangan.

3. Mengupayakan keamanan pejuang (yang bekerja dalam media) dan media perjuangan, menjaga jaminan keterjagaannya dan kesinambungannya dengan izin Allah.

4. Memaksimalkan tugas dan peran yang mungkin mampu dipikul oleh media perjuangan online, terlebih di era internet global saat ini. Dan kami menitikberatkan di sini perhatian pejuang media untuk memperhatikan peran “riset dan studi” dan selalu meng-upgrade informasi. Persoalan ini dan lainnya adalah hal-hal yang harus dikaji secara berterusan.

Tidak diragukan bahwa peran media perjuangan dalam era globalisasi saat ini memiliki bagian yang sangat besar, pejuang media adalah generasi terbaik dari kalangan laki-laki, pemuda-pemuda, wanita dari pendukung perjuangan yang mana tidak terbuka bagi mereka kesempatan untuk bergabung di medan konflik secara langsung atau mereka memang berada di medan konflik, namun ditugaskan dan diberikan amanah untuk manjalankan media perjuangan.

Di antara mereka terdapat potensi-potensi yang sangat luar biasa yang mana pendapat dan pandangan mereka dibutuhkan dalam hal merumuskan strategi politis perjuangan, atau dalam membuat keputusan, dalam menggagas kurikulum perjuangan, dan prinsip peperangan. Mereka harus menyadari itu, dan senantiasa memantapkan keikhlasan dan kejujuran diri mereka untuk memikul tanggung jawab dan amanah ini. Maka hendaknya mereka menjadi sandaran utama yang membantu para pemimpin perjuangan dan Allah bersama orang-orang yang beriman.

Rabiul Ula 1431 H

Syaikh Mufti ‘Athiyyatullah

Diambil dari Panduan Umum Media Perjuangan oleh Syaikh Mufti ‘Athiyyatullah rahimahullah terbitan Nukhbatul Fikr.