Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Tauhid Sumber Utama Kebahagiaan

Oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di

Seorang hamba wajib untuk senantiasa merasa takut kepada Allah dan khawatir akan dirinya, namun senantiasa berharap kepada Allah serta optimis.

Ketika dia merenungi dosa-dosanya dan menyadari keadilan Allah serta azab-Nya yang sangat keras, dia menjadi takut kepada-Nya. Namun, (pada saat yang sama) ketika dia merenungi keutamaan Allah secara umum, keutamaan-Nya yang khusus, dan ampunan-Nya yang luas; dia berharap kepada-Nya.

Ketika dia diberi taufik mengerjakan suatu amal ketaatan, dia berharap kesempurnaan nikmat tersebut kepada Rabbnya agar berkenan menerima amalannya. Akan tetapi, (pada saat yang sama) dia juga takut jika amalan tersebut tidak diterima dengan sebab banyaknya kekurangan dalam mengerjakannya.

Ketika dia diuji dengan terjatuh pada suatu kemaksiatan, dia berharap kepada Rabbnya agar menerima tobat dan menghapus kesalahannya. Namun, (bersamaan dengan itu) dia juga takut apabila kelemahan tobatnya dan masih adanya keinginan untuk kembali melakukan kemaksiatan tersebut menjadi sebab dia mendapat hukuman-Nya.

Ketika dia mendapat kenikmatan dan kelapangan, dia berharap kepada Allah agar nikmat tersebut dikekalkan dan ditambah. Bahkan, dia berharap taufik dari Allah untuk bisa mensyukurinya. Akan tetapi, (bersamaan dengan itu) dia juga takut jika ternyata dirinya belum menunaikan rasa syukurnya (dengan baik), sehingga menjadi sebab Allah mencabut kenikmatan tersebut.

Ketika mendapat perkara yang tidak dia sukai atau tertimpa musibah, dia berharap kepada Allah agar mengangkat musibah tersebut. Dia terus berharap kepada Allah, menunggu jalan keluar supaya Allah menghilangkannya. Dia juga berharap pahala dari Allah ketika dia bisa bersabar atas musibah tersebut. Namun, (pada saat yang sama) dia juga takut akan tertimpa dua musibah sekaligus; yaitu terluput dari pahala saat tidak bisa menjalankan kewajiban bersabar, dalam keadaan musibah tersebut mau tidak mau juga tetap menimpanya.

Itu sebabnya, seorang mukmin yang bertauhid akan senantiasa bersikap takut dan berharap pada semua keadaannya. Ini merupakan suatu kewajiban yang (apabila ditegakkan) akan memberikan manfaat kepadanya. Akibatnya, dengan itu dia akan meraih kebahagiaan.

[al-Qaulu as-Sadid Syarh Kitab at-Tauhid, hlm. 213]

Sumber: MutiaraDabiq

Alfatawa.ID | @alfatawaid