Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Sikap Murji‘ah Membatasi Kekafiran pada Juhud Qalbi

Oleh Syaikh ‘Isham bin Muhammad al-Burqawi

Al Halabi menulis sebagaimana kebisaaan kaum Murjiah menggembar-gemborkan kufur juhud (pengingkaran), halaman 4, dst.

Saya tidak mengetahui seorangpun dari Ahlis Sunnah yang menyelisihi bahwa kufur juhud adalah salah satu dari macam-macam kekafiran yang mengeluarkan dari millah, terutama di antaranya juhud qalbiy (pengingkaran hati) yang dimaksud satu-satunya oleh kaum Jahmiyyah dan Murjiah. Ini adalah hal yang disepakati, sehingga penuturan dia terhadap ungkapan-ungkapan para ulama seputar ini hakikatnya adalah penuturan yang banyak dalam hal yang tidak ada faidah di belakangnya, memperpanjang dan memperbesar yang tidak ada gunanya serta keluar dari medan perseteruan, di samping semua nukilan-nukilannya dalam penghati-hatian dari takfier yang telah dia kutip dan dia penggal dari ucapan ulama dalam masaail ilmiyyah (Al Asma wash Shifat) yang mana mereka tidak mengkafirkan dengannya kecuali setelah penegakkan hujjah, karena dalam bab ini ada hal-hal yang tidak bisa diketahui kecuali lewat jalan hujjah risaliyyah, jadi perselisihan itu bukan dalam keberadaan bahwa kufur juhud itu termasuk kufur akbar, akan tetapi perselisihan itu tentang keberadaan bahwa orang-orang itu mengembalikan semua macam kekafiran kepada juhud qalbiy sebagaimana ia thariqah (jalan/manhaj) Murji-atul Jahmiyyah.

Jadi, asal acuan mereka dalam hal ini adalah asal yang buruk yaitu ucapan Jahmiyyah bahwa iman adalah tashdiq (pembenaran) dengan hati saja. Dan dikarenakan Jahmiyyah dan Ghulatul Murjiah telah mendefinisikan al iman dengan hal itu dan membatasinya pada pengetahuan hati dan pembenarannya, maka sesungguhnya mereka membatasi kekafiran dengan kebalikannya, sehingga dari itu al iman menurut mereka tidak batal kecuali dengan itiqad (pendustaan) atau juhud qalbiy atau istihlal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menyebutkan dalam Kitabul Iman bahwa Ghulatur Murji-ah tidak memandang kecuali kufur juhud dan takdzib.

Murji-ah zaman kita dari kalangan yang berbaju salafiy walau mereka menyelisihi Murji-ah terdahulu dalam penamaan al iman dan definisinya sebagai definisi saja, akan tetapi sesungguhnya mereka menyelarasi Murji-ah terdahulu pada banyak lawazim (konsekuensi) definisi itu, terus mereka menjajakan syubuhat mereka dan menegaskan bahwa takfier itu tidak terjadi kecuali dengan itiqad dan juhud qalbiy. Walaupun Mereka mendefinisikan al iman dengan definisi yang shahih dan memasukkan di dalamnya ucapan dan perbuatan di samping itiqad, namun mereka pada hakikatnya tidak mengkafirkan kecuali dengan itiqad saja.

Sebagai contoh saja, silahkan perhatikan ucapan Al Halabiy dalam Muqaddimahnya halaman 19:

«فالأمر كلّه في دائرة الكفر مبني على نقض الإيمان وعدم الاعتقاد» انتهى.

“Jadi, semua masalah ini dalam lingkungan kekafiran yang dibangun di atas pengguguran al iman dan tidak adanya i’tiqad.”

Dan ucapannya sebelum itu (hal. 9) pada catatan kaki:

«من ثبت له حكم الإسلام بالإيمان الجازم إنمّا يخرج عنه بالجحود أو التكذيب»انتهى.

“Orang yang tetap baginya hukum Islam dengan al iman yang pasti, hanyalah keluar darinya dengan juhud atau takdzib.”

Dan ucapannya (hal. 27):

«فينبغي على ضوء ذلك الحكم على المتروكات وفق قاعدة الترك الاعتقادي!! المبني على الجحود والإنكار أو التكذيب أو الاستحلال لا على الترك المجرّد»انتهى.

“Maka atas dasar itu seyogyanya menghukumi terhadap matrukat (hal-hal yang ditinggalkan) itu sesuai kaidah meninggalkan yang bersifat i’tiqad...!!! yang dibangun di atas juhud dan inkar atau takdzib atau istihlal bukan atas sekedar meninggalkan.”

Ini semuanya, baik mereka mau atau tidak, adalah bagian dari hasil-hasil dan lawazim pendapat bahwa iman itu adalah pembenaran hati (tashdiq qalbiy) saja, meskipun mereka tidak mendefinisikannya seperti itu, namun mereka menganut lawazim-nya, dan oleh sebab itu mereka telah menelantarkan rukun amal yang mereka sebutkan tabarruk-an (mencari berkah) dalam definisi al iman, terus mereka menjadikan peninggalan amalan dan lenyapnya seluruhnya sebagai pengurangan terhadap al iman itu saja, sebagaimana menurut mereka tidak ada suatu amalanpun yang bisa membatalkan iman tanpa disertai juhud qalbiy, selamanya.

Dan atas dasar ini, maka bagaimana mereka mengatakan bahwa amal adalah satu rukun dari arkanul iman...?! Sedangkan al haq adalah apa yang ditetapkan para imam kita, yaitu bahwa di antara amal itu:
Ada yang mengurangi al iman, yang mana pelakunya tidak dikafirkan, akan tetapi imannya berkurang.
Di antaranya ada yang membatalkan al iman, yang menggugurkan ashlul iman dan membatalkannya.

Macam yang pertama ialah yang diberi syarat saat takfier dengan juhud, itiqad dan istihlal.

Adapun yang ke dua, maka tidak disyaratkan hal yang seperti ini di dalamnya dan ia tidak disebutkan, kecuali dalam rangka penambahan dalam kekafiran.

Kufur kepada thaghut sebagai contoh adalah amal yang mesti ada untuk keabsahan al iman, bahkan ia adalah tergolong cabang-cabang al iman tertinggi, karena ia adalah separuh tauhid dan syaratnya, di mana ia adalah penafian yang ada dalam syahadat Laa ilaaha illallaah, oleh sebab itu sesungguhnya lenyapnya hal itu membatalkan ashlul iman tanpa khilaf (perselisihan).

Berbeda dengan rasa malu dan menyingkirkan kotoran dari jalan, maka ia adalah amalan yang lenyapnya tidak menggugurkan al iman, namun hanya menguranginya dan melemahkannya bila ia tergolong tingkatan al iman al wajib.

Al Allamah Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata dalam kitabnya Ash Shalat Wa Hukmu Tarikiha (hal. 53), yang dinukil darinya oleh Al Halabiy (hal. 9) dari muqaddimahnya, dia melipat apa yang akan kami utarakan kepada Anda ini, kemudian dia menuduh orang yang menyelisihinya (hal. 6): ...bahwa mereka itu bisanya melipat nukilan-nukilan ini dan menyembunyikannya dari para pengikut mereka...

Ibnul Qayyim berkata:

«وشُعَبُ الإيمان قسمان: قولية وفعلية، وكذلك شُعَبُ الكفر نوعان: قولية وفعلية، ومن شُعَب الإيمان القولية، شُعبة يوجب زوالها زوال الإيمان، فكذلك من شُعبه الفعلية ما يُوجب زوالها زوال الإيمان. وكذلك شُعَب الكفر القولية والفعلية، فكما يكفر بالإتيان بكلمة الكفر اختياراً وهي شُعبة من شُعَب الكفر فكذلك يكفر بفعل شُعبة من شُعبه كالسجود للصنم والاستهانة بالمصحف»انتهى

“Dan cabang-cabang al iman itu ada dua macam: qauliyyah (yang bersifat ucapan) dan fi’liyyah (yang bersifat perbuatan), dan begitu juga cabang-cabang al kufru ada dua macam: qauliyyah dan filiyyah. Dan di antara cabang-cabang al iman yang bersifat ucapan terdapat cabang yang lenyapnya mengharuskan lenyapnya al iman, dan begitu juga dari cabang-cabangnya yang bersifat perbuatan ada cabang yang lenyapnya mengaharuskan lenyapnya iman. Begitu juga cabang-cabang kekafiran yang bersifat ucapan dan perbuatan, sebagaimana (orang menjadi) kafir dengan sebab mendatangkan ucapan kekafiran secara ikhtiyar (tidak dipaksa), sedang ia adalah cabang dari cabang-cabang kekafiran, maka begitu juga (menjadi) kafir dengan sebab melakukan satu cabang dari cabang-cabangnya, seperti sujud kepada berhala dan melecehkan mushhaf.” Selesai.

Sedangkan Jahmiyyah sekarang dan Murji-ah masa kini kembali kepada Ushul para pendahulu mereka dari kalangan Murji-ah terdahulu saat mereka didesak (disudutkan) dengan cabang-cabang kekafiran yang bersifat ucapan atau perbuatan, seperti sujud kepada berhala, melempar mushhaf ke comberan, membunuh Nabi atau mencela Allah, mencela Rasul, dan membela orang-orang kafir atas kaum muwahhidin.

Semua itu adalah amalan-amalan yang mengkafirkan yang tidak seorangpun dari Ahlus Sunnah mensyaratkan di dalamnya juhud atau istihlal, akan tetapi Kaum Murji-ah mengatakan: Sesungguhnya amalan-amalan ini tidak muncul, kecuali dari keyakinan yang rusak, juhud, keraguan dan istihlal, dan inilah kekafiran itu menurut mereka bukan amalan-amalan tersebut.

Ucapan yang busuk ini adalah ucapan Bisyr Al Mirrisiy dan orang yang berjalan di atas jalannya, dari kalangan Murjiah Jahmiyyah, dan di antara ucapan-ucapan keji yang disandarkan kepada dia adalah ucapannya: Sesungguhnya sujud kepada matahari dan bulan bukanlah kekafiran, tapi ia adalah tanda terhadap itiqad al kufr...!!! Perhatikan ini! kemudian lihat pada ucapan-ucapan mereka...

“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Adz Dzaariyaat [51]: 53).

Adapun Ahlus Sunnah Wal Jamaah, maka dengarkanlah apa yang dikatakan para imam mereka:

Abu Ya’qub Ishaq Ibnu Rahuwaih berkata:

« ومّما أجمع على تكفيره وحكموا عليه بالكفر كما حكموا على الجاحد. المؤمن الذي آمن بالله تعالى وبما جاء من عنده، ثم قتل نبياً أو أعان على قتله، ويقول قتل الأنبياء مُحرّم فهو كافر» انتهى.

“Dan di antara yang diijmakan atas pengkafirannya dan yang mereka vonis kafir terhadapnya, sebagaimana mereka vonis (kafir) terhadap yang mengingkari, adalah orang mu’min yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada apa yang datang dari sisi-Nya kemudian dia membunuh Nabi atau membantu terhadap pembunuhannya dan dia berkata membunuh para Nabi itu diharamkan, maka dia kafir.”

Syaikhul Islam telah menukil pernyataan ijma atas hal ini dari Ishaq dalam Ash Sharimul Maslul (hal. 453), dan Beliau berkata dalam Ash Sharimul Maslul:

«إنَّ من سبَّ الله أو سبَّ رسوله كفر ظاهراً وباطناً سواء كان السّاب يعتقد أنَّ ذلك مُحرّم أو كان مُستحلاً له أو كان ذاهلاً عن اعتقاده. هذا مذهب الفقهاء وسائر أهل السُنّة القائلين بأنَّ الإيمان قول وعمل.. إلى أنْ قال: «وكذلك قال أصحابنا وغيرهم: من سبَّ الله كفر سواء كان مازحاً أو جاداً» قال: «وهذا هو الصواب المقطوع به».

“Sesungguhnya orang yang mencela Allah atau mencela Rasul-Nya adalah telah kafir lahir dan batin, baik orang yang mencela itu meyakini bahwa itu diharamkan atau dia menganggapnya halal atau dia lalai dari keyakinannya. Ini adalah madzhab para fuqaha dan seluruh Ahlus Sunnah yang mengatakan bahwa al iman itu adalah ucapan dan perbuatan... sampai beliau berkata: Dan begitu juga para sahabat kami dan yang lainnya berkata: “Siapa yang mencela Allah maka dia telah kafir, baik dia itu bercanda atau serius, Beliau 20 berkata: Dan inilah yang benar lagi dipastikan.” Selesai.

Beliau juga menukil dari Al Qadli Abu Yala dalam Al Mutamad:

«من سبَّ الله أو سبَّ رسوله فإنِّه يكفر سواء استحل سبّه أو لم يستحلّه فإنْ قال لم أستحلّ ذلك لم يُقبل منه..»انتهى.

“Siapa yang mencela Allah atau mencela Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia kafir, baik dia menghalalkan celaan itu ataupun tidak, kemudian bila ia berkata: Saya tidak menghalalkan itu maka (itu) tidak diterima darinya.” Selesai.

Syaikhul Islam berkata dalam Kitab yang sama (hal. 515):

«ويجب أنْ يُعلم أنَّ القول بأنَّ كفر السابّ في نفس الأمر إنّما هو لاستحلاله السبّ، زلّة مُنكرة وهفوة عظيمة» قال: «وإنّما وقع من وقع في هذه المهواة بما تلقوه من كلام طائفة من متأخري المتكلمين وهم الجهمية الإناث، الذين ذهبوا مذهب الجهمية الأولى في أنَّ الإيمان هو مُجرّد التصديق الذي في القلب..»انتهى

“Dan wajib diketahui bahwa pendapat yang mengatakan bahwa kekafiran orang yang mencela (Allah atau Rasul-Nya), padahal yang sebenarnya hanyalah karena ia menganggap halal celaan itu, adalah ketergelinciran yang munkar dan kesalahan yang fatal. Ia pun melanjutkan: Dan sebab terjatuhnya orang yang terjatuh di dalamnya hanyalah dengan sebab apa yang mereka pahami dari ucapan sekelompok dari orang-orang mutakallimin terkini, yaitu Jahmiyyah Inats yang berpendapat dengan pendapat Jahmiyyah terdahulu, yaitu bahwa iman itu sekedar tashdiq (pembenaran) yang ada di hati.” Selesai

Maka, perhatikanlah dari siapa orang-orang itu mengambil rujukan...!!!

Dan dia berkata di halaman 518:

«إنَّ اعتقاد حِلُّ السبّ كُفر سواء اقترن به وجود السبّ أو لم يقترن»انتهى.

“Sesungguhnya meyakini kehalalan mencela (Allah dan Rasul-Nya) adalah kekafiran, baik disertai dengan celaan ataupun tidak.” Selesai.

Ucapan beliau yang akhir-akhir ini sangat serupa dengan ucapan muridnya, Ibnul Qayyim, dalam Madarijus Salikin saat menuturkan ucapan-ucapan tentang takwil firman-Nya taala, “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir,” (QS. Al Maa-idah [5]: 44)

Dan beliau menyebutkan di antara hal itu: “Ada orang yang mentakwil ayat ini terhadap sikap meninggalkan al hukmu bima anzalallah seraya mengingkarinya, maka hal tersebut adalah ucapan Ikrimah.”

Kemudian Beliau berkata:

« وهو تأويل مرجوح، فإنَّ نفس جحوده كفر سواء حكم أو لم يحكم»

“...dan hal tersebut adalah takwil yang marjuh (lemah), karena juhudnya itu sendiri adalah kekafiran baik ia memutuskan ataupun tidak. Selesai (Madarijus Salikin 1/336)

Syaikhul Islam berkata juga dalam tafsir firman-Nya taala: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka atas mereka murka dari Allah dan bagi mereka siksa yang besar.” (QS. An Nahl [16]: 106)

Beliau berkata:

«ولو كان المتكلّم بالكفر لا يكون كافراً إلاّ إذا شرح به الصدر لم يستثن المُكره، فلمّا استثنى المُكره علِمَ أنَّ كل من تكلّم بالكفر غير المُكره فقد شرح بالكفر صدراً فهو حكم وليس قيداً للحكم»انتهى.

“Seandainya orang yang mengucapkan kekafiran tidak menjadi kafir, kecuali bila ia melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka hal tersebut hanyalah bagi orang yanag dipaksa. Namun, tatkala orang yang mengucapkan kekafiran, selain yang dipaksa, maka dia itu telah melapangkan dadanya untuk kekafiran. Jadi, hal tersebut adalah hukum dan bukan syarat/qayyid bagi hukum itu.”

Pahamilah baik-baik ucapan beliau yang akhir: “...hal tersebut adalah hukum dan bukan syarat/qayyid bagi hukum itu.”

Jadi, orang yang menyatakan kalimat kekafiran atau orang yang melakukan perbuatan kekafiran tanpa udzur syariy adalah kafir, kita hukumi dia kafir lahir dan batin, karena pernyataan dia akan kalimat kekafiran tanpa udzur adalah dalil yang menunjukkan dia meyakini kekafiran, dan bukan sebaliknya sebagaimana yang disyaratkan jahmiyyah, di mana mereka tidak mengkafirkan, kecuali dengan syarat itiqad atau istihlal atau juhud qalbiy. Karena itu engkau melihat Afrakh Jahmiyyah, sebagaimana yang lalu, berlindung pada ungkapan-ungkapan para pendahulunya saat mereka disudutkan (ilzam) dengan sebagian mukaffirat amaliyyah yang diijmakan oleh Ahlul Islam, di mana mereka mengatakan: Kami kafirkan pelakunya karena perbuatan-perbuatan semacam ini tidak muncul, kecuali dari keyakinan kufur yang rusak. Jadi, perbuatan-perbuatan kufur yang tegas itu menurut mereka bukanlah kekafiran, namun yang kufur atau syarat kekufuran menurut mereka adalah dorongan hati terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Padahal yang benar adalah bahwa ini adalah hukum dan bukan syarat, juga bukan qaid (batasan) sebagaimana yang dijelaskan Syaikhul Islam.

Ibnu Hazm berkata dalam Kitab Ad Durrah Fima Yajibu I’tiqaduhu pada halaman 339:

«فصحَّ بنصِّ القرآن أنَّ من قال كلمة الكفر دون تقيّة فقد كفر بعد إسلامه، فصح أنَّ من اعتقد الإيمان ولفظ بالكفر فهو عند الله تعالى كافر بنصّ القرآن»انتهى.

“Maka menjadi sah dengan nash Al Qur’an bahwa orang yang mengucapkan kalimat kekafiran tanpa taqiyyah maka ia telah kafir setelah dia Islam, sehingga sah bahwa orang yang meyakini al iman dan ia mengucapkan kekafiran maka ia di sisi Allah ta’ala adalah kafir dengan nash Al Qur’an.” Selesai.

Dan ini adalah isyarat darinya dari ayat Surat An-Nahl tentang ikrah.

Beliau berkata dalam bantahannya terhadap Ahlul Irja:9:

ولو أنَّ إنساناً قال: إنَّ محمداً عليه الصلاة والسلام كافر وكل من تبعه كافر وسكت ، وهو يُريد كافرون بالطاغوت كما قال تعالى: (فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن باللهِ فقد استمسكَ بالعروةِ الوثقى( لما اختلف أحد من أهل الإسلام في أنَّ قائل هذا محكوم له بالكفر. وكذلك لو قال إنَّ إبليس وفرعون وأبا جهل مؤمنون لما اختلف أحد من أهل الإسلام في أنَّ قائل هذا محكوم له بالكفر وهو يُريد أنّهم مؤمنون بدين الكفر..»

“Seandainya seseorang berkata: Sesungguhnya Muhammad ‘alaihish shalatu was salam adalah kafir dan setiap orang yang mengikutinya adalah kafir,” dan dia diam, sedang dia memaksudkan (bahwa mereka itu) kafir terhadap thaghut sebagaimana firman Allah taala: Siapa yang kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia telah berpegang pada al urwah al wutsqa, tentulah tidak seorangpun dari ahlul Islam akan berselisih bahwa orang yang mengatakan hal ini divonis kafir. Dan begitu juga seandainya ia berkata Bahwa Iblis, Firaun dan Abu Jahal adalah muminun tentu tidak seorangpun dari Ahlul Islam berselisih bahwa orang yang mengatakan hal ini divonis kafir, padahal ia bermaksud bahwa mereka itu beriman terhadap dinul kufri.” Selesai

Saya berkata: Maka sah, bahwa kami mengkafirkannya dengan sekedar ucapan dan perbuatannya yang kafir, dan kita tidak ada urusan dengan keyakinan batinnya, dan begitulah setiap orang yang menampakkan ucapan atau perbuatan yang telah Allah namakan kekafiran yang mengeluarkan dari millah, maka kami mengkafirkannya dengan sekedar ucapan atau perbuatan itu karena keyakinan batinnya tidak diketahui, kecuali oleh Allah Azza Wa Jalla. Sedangkan Rasulullah shalallaahu alaihi wa sallam bersabda:9:

(إنّي لم أُبعث لأشقَّ عن قلوب النّاس)

“Sesungguhnya aku tidak diutus untuk merobek hati manusia.”

Maka, orang yang mengklaim selain ini adalah orang yang mengklaim mengetahui yang ghaib, sedangkan orang yang mengklaim mengetahui ‘ilmu ghaib, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah dusta.

Selagi kita bersama Ibnu Hazm maka ada baiknya bagi saya, wahai saudaraku, sebelum meninggalkan tempat ini memperkenalkanmu pada contoh-contoh dari (amanah)...???!!! Al Halabiy dan akan datang hal serupa yang banyak supaya engkau mengetahui bagaimana berinteraksi dengan kitab-kitab dan nukilan-nukilannya, sungguh dia telah menukil di catatan kaki (hal. 4) di muqaddimahnya dari Ibnu Hazm, ucapannya tentang definisi kufur:9:

«الكفر صفة من جحد شيئاً مما افترض الله تعالى الإيمان به بعد قيام الحجّة عليه ببلوغ الحق إليه».

“Kufur adalah sifat orang yang mengingkari suatu dari apa yang telah Allah ta’ala fardlukan iman kepadanya setelah tegak hujjah terhadapnya dengan sampainya al haq kepadanya.”

Dan perhatikan bagaimana dia (Al Halabiy) menutup kurung di sini dan meletakkan titik dengan penuh berani...!! padahal ucapan itu memiliki lanjutan yang penting yang menggugurkan talbis-talbis Al Halabiy, kejahmiyyahan dia serta Irja-nya, yaitu ucapan Ibnu Hazm langsung setelah itu:9:

« بقلبه دون لسانه أو بلسانه دون قلبه أو بهما معاً أو عَمِلَ عملاً جاء النص بأنّه مخرج له بذلك عن اسم الإيمان)

“...dengan hatinya tanpa disertai lisannya atau dengan lisannya tanpa disertai hatinya atau dengan keduanya secara bersamaan atau melakukan amalan yang telah datang nash bahwa ia mengeluarkannya dengan hal itu dari nama al iman.” Selesai

Yang dipenggal Al Halabiy dan ia nukil sepotong dari ucapan Ibnu Hazm di sini adalah tajahhum (faham jahmiyyah) murni!! Terutama, sesungguhnya dia (Al Halabiy) tidak memandang juhud kecuali juhudul qalbi (pengingkaran hati). Jadi, atas dasar ini ia tergolong barang dagangan (bidlaah) Ahlut Tajahhum Wal Irja yang tidak laku dan tidak berharga di kalangan Ahlus Sunnah, yang laris dan menguntungkan di kalangan para thaghut serta kaki tangan mereka dari jajaran Ahlul bidah...!!!

Akan tetapi, dengan tambahan ini, yang dilipat oleh Al Halabiy dengan amanah ilmiyyahnya dan dia potong dengan kelihaiannya dan kecekatan tangan copetnya, adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang merasa sesak darinya dada Ahluttajahhum wal Irja, dan oleh karenanya mereka itu seperti yang dikatakan Al Halabiy (hal. 6): 9:

«يطوون هذه النقول!! ويكتمونها عن أتباعهم»!!.

“Melipat nukilan-nukilan ini serta menyembunyikannya dari para pengikut mereka...!!”

Dan seperti apa yang dia katakan (hal. 16):9:

«حذفوا من النقل ما يُبيّنه ويُوضحه.. !! فماذا نقول ؟»…

“...mereka membuang dari nukilan suatu yang menjelaskannya dan menjabarkannya...!!! Maka, apa yang kita katakan...???”

Dan dia berkata (hal 35): 9:

( إنَّ هؤلاء المنحرفين (وظلالهم) المنتشرة (هنا) و(هناك) إنْ هم إلاّ (أشباح) في العلم و (أشباه) في المعرفة إذا كتبوا حرّفوا!!! وإذا استدّلوا بدّلوا وصرّفوا!!»انتهى.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpang itu (dan Dhilal mereka) yang bertebaran (di sini) dan (di sana) mereka itu tidak lain adalah (Asybah/bayangan bohong) dalam ilmu dan (para peniru) dalam pengetahuan, bila mereka menulis maka mereka mentahrif!!! Dan bila mereka berdalil maka mereka merubah dan memalingkan!!!”

Saya berkata: Siapa sebenarnya mereka itu...???!!!

Sesungguhnya ucapan Ibnu Hazm, bersama bagian yang dipenggal dan dilipat Al Halabiy, adalah sangat jelas menerangkan bahwa kekafiran, itu bisa berbentuk:
Juhud dengan hati tanpa disertai lisan.
Juhud dengan lisan tanpa disertai hati.
Atau dengan keduanya secara bersamaan.
Atau melakukan amalan yang telah datang nash bahwa ia mengeluarkannya dengan hal itu dari nama al iman.

Perhatikanlah macam ke dua dan ke empat karena perseteruan adalah dalam dua hal itu, oleh sebab itu Al Halabiy menyembunyikan tambahan itu.

Semoga Allah merahmati Al Waki’ Ibnul Jarrah di mana beliau berkata:9:

«أهل العلم يكتبون مالهم وما عليهم، وأهل الأهواء لا يكتبون إلاّ ما لهم» رواه الدار قطني

“Ahlul ilmi menulis apa yang mendukung mereka dan apa yang menyudutkan mereka, sedangkan Ahlul Ahwa tidak menulis, kecuali apa yang menguntungkan mereka.” (HR. Ad Daruquthniy)

Peringatan: Dan sebelum mengakhiri bagian ini saya mengingatkan pembaca bahwa Al Halabiy telah berhujjah juga untuk madzhabnya ini dalam membatasi kekafiran terhadap takdzib dan juhud (hal. 8); dengan apa yang dia nukil dari Abu Ja’far Ath Thahawiy rahimahullaah, dia berkata: 9:

«لا يكون الرجل كافراً من حيث كان مسلماً! وإسلامه كان بإقرار الإسلام، فكذلك رِدّتهُ لا تكون إلاّ بجحود الإسلام»

“...orang tidak menjadi kafir dari28 keberadaannya yang muslim! Dan keislamannya itu terjadi dengan pengakuan akan Islam, maka begitu juga riddahnya tidak terjadi kecuali dengan Juhudil Islam (mengingkari Islam).”

Dan ucapan ini adalah dipenggal...!!! oleh Al Halabiy dari penutup ucapan Ath Thahawiy tentang penjelasan musykil (kesulitan) apa yang diriwayatkan dari sabdanya: 9:

(من لم يُحافظ على الصلوات الخمس كان يوم القيامة مع فرعون)

“Siapa yang tidak menjaga shalat yang lima waktu, maka di hari kiamat ia bersama Fir’aun.”

Sedangkan telah jelas di hadapan Anda dalam uraian yang lalu bahwa membatasi kekafiran dan riddah terhadap juhud saja tidak lain adalah satu hasil dari hasil-hasil paham Irja!!! Dasar itu dan sebabnya adalah ucapan Murjiah bahwa Al Iman itu adalah tashdiq saja, dan dari sana mereka membatasi kufur dan riddah terhadap lawannya yaitu juhud qalbiy dan takdzib, dan telah kami jelaskan kebatilan taqdid ini dengan penjelasan yang tidak perlu saya ulang lagi. Akan tetapi, tidak selayaknya bagi pencari kebenaran terpedaya atau terheran-heran dari kemunculan ungkapan semacam ini dari Abu Jafar Ath Thahawiy karena para penuntut ilmu yang masih yunior mengetahui bahwa risalah aqidahnya yang masyhur dengan nama Al Aqidah Ath Thahawiyyah telah dapat diterima seluruh isinya oleh Ahlus Sunnah, kecuali beberapa ungkapan, di antaranya keselarasan Beliau dengan sekelompok dari kalangan Murjiah terhadap definisi Al Iman, yaitu (tashdiq dengan hati dan pengakuan dengan lisan) tanpa menyebutkan amal, padahal sudah malum bahwa ini termasuk yang dikritik oleh ulama dan muhaqqiqun terhadap kalangan Ahnaf (madzhab Hanafi) secara umum dan di antaranya penulis Al Aqidah Ath Thahawiyyah, dan para ulama menamakan mereka sebagai (Murjiah Fuqaha), dan dari sana tidak anehlah bila Ath Thahawiy membatasi kufur dengan juhud serta tidak asing bila muncul darinya ungkapan seperti ini karena ia adalah di antara buah-buah definisi itu, namun yang aneh adalah orang yang mengaku salafi...!!! Dan menganut definisi salaf terhadap iman malah mengikuti hal itu seperti Al Halabiy ini...!!! Di mana dia mengambil dan memenggal dari tulisan Al Imam Ath Thahawiy tempat yang memang telah dikritik terhadapnya ini, dan Al Halabiy tidak melakukan itu, kecuali karena ungkapan itu selaras dengan paham Tajahhum dan Irja dia... sehingga saya tidak melihat perumpamaan baginya dalam hal ini (kecuali lalat yang selalu mencari sumber penyakit).

[Diterjemahkan dari Tabshirul Uqala bi Talbisat Ahlut Tajjahum wal Irja wa huwa Radd ‘ala Kitab Tahdzir min Fitnatit Takfir tulisan Syaikh ‘Isham Al Burqawi hafizhahullah oleh Abu Sulaiman]

Alfatawa.ID | @alfatawaid