Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Rincian Batasan Ketaatan terhadap Penguasa (Bag. 1)

Oleh Syaikh Abu Fihr al-Muslim

Barang siapa meniadakan syariat Allah, dan tidak menjaga agama Allah beserta hak-hak Allah maka tidak ada ketaatan baginya dan juga kekuasaan.

Adapun para penguasa yg meniadakan syariat Allah, sehingga tidak berhukum dengannya bahkan berhukum dengan selain hukum Allah, maka mereka telah keluar dari hak ketaatan. Sehingga umat islam tidak perlu mentaati mereka; karena mereka telah menelentarakan tujuan utama kepemimpinan dan kepemimpinan tidak didirikan di dalam islam, melainkan bertujuan untuk menjalankan syariat islam. Maka ketika penguasa menjalankan syariat Allah, berhak baginya utk ditaati, didengarkan dan tidak boleh memberontak!

Karena juga waliyulamri tidak berhak mendapatkan hal demikian (ketaatan) kecuali jika dia telah menjalankan usrusan umat islam, menjaga agama islam dan menyebarkannya, menjaga hukum-hukum islam, menjaga wilayah perbatasan, memerangi musuh islam(ketika sudah didakwahi), dan berloyalitas membela setiap muslim dan berlepas diri sekaligus memusuhi setiap musuh agama islam.

Jika para penguasa tidak menjaga agama ini, atau belum menjalankan urusan-urusan umat islam, maka hilanglah hak ketaatan atasnya, dan wajib bagi seluruh umat islam bersama dengan ahli halli wal aqdi yg memiliki kuasa dalam hal kepemimpinan menurunkannya dari kursi kekuasaan, dan menggantinya dengan penguasa baru yg dapat mengemban amanah setiap tujuan kepemimpinan islam!

Adapun Ketika Ahlussunah sepakat atas dilarangnya keluar dari ketaatan atau memberontak para penguasa yg melakukan kedzoliman dan kefasikan maknanya adalah karena kedzoliman dan kefasikan bukan berarti menelentarakan agama islam. Sehingga maksud mereka (dari kesepakatan atas larangan keluar ketaatan para penguasa) adalah imam atau penguasa yg berhukum dengan syariat Allah karena dahulu salaf kita tidak mengenal adanya kekuasaan islam yg tidak menjaga agama islam. Jika ada, maka menurut mereka hal tersebut tidak dinilai sebagai kekuasaan. (Lihat Kitab al-Wajiiz fi Aqidah Salaf karya Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsariy)

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsariy berkata di dalam mukadimah kitabnya :

وكان من فضل الله تعالى أَن اجتمع على قراءة الكتاب وتقويمه في طبعته هذه: فضيلة الشيخ عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين رحمه الله، وفضيلة الشيخ العلامة صالح بن فوزان الفوزان، والشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ، والشيخ الدكتور ناصر بن عبد الكريم العقل شكر، الله لهم وأَثابهم، ونفع بعلمهم..

“Termasuk keutamaan Allah yg telah diberikan kepadaku adalah adanya beberapa ulama yg berkumpul dan bersedia untuk membaca kitab ini (al-Wajiiz), beserta mengoreksinya, mereka diantaranya : Syaikh Abdullah bin Abdurrohman al-Jibrin -rohimahullah-, Syaikh Sholeh al-Fauzan, Syaikh Soleh bin Abdul Aziz Alu as-Syaikh, dan Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karem al-'Aql. Segala pujia bagi Allah atas apa yg mereka perbuat, dan semoga Allah membalas kebaikan mereka dan menjadikan ilmu-ilmu mereka bermanfaat."

Alih Bahasa : Abu Musa al-Mizzy

Alfatawa.ID | @alfatawaid