Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Perkataan Para Ulama tentang Kafirnya Orang yang Tidak Mengafirkan Orang Kafir

Oleh Syaikh Yusuf bin Ahmad al-Mathiri

Para Ahlul ‘Ilmi telah meneliti penjelasan kekafiran orang yang tidak mengkafirkan orang kafir, dan sangat banyak ungkapan-ungkapan mereka tentang penjelasan pembatal ini, maka di antara mereka ada yang mengungkapkan pembatal ini dan menyebutkannya secara mutlak, dan di antara mereka ada yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf terhadap orang yang tidak beragama islam secara umum, dan di antara mereka ada yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf terhadap kelompok-kelompok yang tidak beragama islam, dan di antara mereka ada yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf terhadap kelompok dari golongan orang-orang yang terjatuh kepada kekafiran dan tetap menisbatkan diri kepada islam, dan di antara mereka ada yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf terhadap orang yang terjatuh pada salah satu macam kekafiran, dan berikut ini kami sebutkan apa yang kami berpijak diatasnya berupa perkataan-perkataan mereka:

Pertama: tokoh yang mengungkapkan pembatal ini dan menyebutkannya secara mutlak.

1. Berkata Salamah bin Syabib –rohimahulloh-: “Orang yang tidak bersaksi dengan kekafiran orang kafir maka dia kafir.” (Diriwayatkan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 8/315, dan disebutkan di dalamnya “Abu Salamah bin Syabib” dan ini salah, dan dikoreksi dari Tadzhibat Tadzhib karya Adz-Dzahabi 2/303/1257)

2. Dan berkata Abul Husain Al-Malathi Asy-Syafi’i –rohimahulloh-: “Bahwa ... seluruh ahli kiblat tidak ada perselisihan di antara mereka bahwa orang yang ragu tentang (kekafiran) orang kafir maka dia kafir.” (At-Tanbih wa Ar-Rod ‘Ala Ahlil Ahwa’ wal Bida’, hal. 40_ dengan perubahan)

3. Dan berkata Syaikh Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –rohimahulloh-: “Orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu tentang kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka dia kafir menurut ijma’.” (Ad-Duror As-Saniyah 10/91)

Kedua: Orang yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf terhadap orang yang tidak beragama islam secara umum.

4. Berkata Qodhi ‘Iyadh –rohimahulloh-: “Kami mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan orang yang beragama dengan selain agama kaum muslimin, atau tawaqquf terhadap mereka, atau ragu, atau membenarkan madzhab mereka, dan jika dia menampakkan islam bersamaan dengan itu dan meyakini bathilnya setiap madzhab selainnya maka dia kafir dengan dia menampakkan apa yang menyelisihi hal itu.” (Asy-Syafa bi Ta’riifi Huquqil Mushthofa 2/286)

5. Dan berkata An-Nawawi –rohimahulloh-: “Orang yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain islam, seperti nasrani, atau ragu dalam mengkafirkan mereka, atau membenarkan madzhab mereka maka dia kafir.” (Roudhotut Tholibin 10/70)

6. Dan Al-Hajjawi –rohimahulloh- mengungkapkan: “Bahwa orang yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain islam seperti nasrani, atau ragu tentang kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka ... maka dia kafir.” (Al-‘Iqna’ 4/298_dengan sedikit perubahan)

7. Dan Al-Buhuti –rohimahulloh- mengungkapkan takfir terhadap orang “yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain agama islam seperti ahli kitab, atau ragu tentang kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka.” (Syarhul Muntahal Iroodaat 3/395)

Ketiga: Orang yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf terhadap kelompok yang tidak beragama islam.

8. Berkata Imam Abu Bakr bin ‘Abbas –rohimahulloh-: “Apakah diragukan tentang yahudi dan nasrani bahwa keduanya kafir?! Maka barangsiapa ragu tentang mereka bahwa mereka kafir maka dia kafir.” (Masail Harbil Kurmani 3/1129)

9. Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh-: “Dan siapa yang tidak mengharamkan beragama dengan agama yahudi dan nasrani setelah diutusnya –shollallahu ‘alaihi wa sallam- bahkan siapa yang tidak mengkafirkan mereka dan membenci mereka maka dia bukan orang muslim dengan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ al-Fatawa 28/464)

10. Dan berkata Syaikh ‘Abdulloh bin ‘Abdurrohman Aba Bathin –rohimahulloh-: “Dan sungguh kaum muslimin telah bersepakat atas kafirnya orang yang tidak mengkafirkan yahudi dan nasrani, atau ragu tentang kekafiran mereka.” (Ad-Duror As-Saniyah 12/69)

11. Dan berkata Syaikh Sulaiman bin Sahman –rohimahulloh-: “Dan kami memastikan bahwa yahudi dan nasrani pada hari ini adalah orang-orang bodoh lagi muqollid, dan kami meyakini kekafiran mereka, dan kekafiran orang yang ragu tentang kekafiran mereka.” (Adh-Dhiya’ Asy-Syaariq fii Rod Syubhat Al-Maariq, hal. 374)

Keempat: Orang yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf terhadap orang-orang tertentu atau kelompok-kelompok dari golongan orang-orang yang telah sah ijma’ atas kekafiran mereka dan tetap menisbatkan diri kepada islam.

12. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal –rohimahulloh-: “Dan orang yang tidak mengkafirkan kaum itu seluruhnya – yaitu jahmiyah dan waqifah – maka dia seperti mereka.” (Thobaqot Al-Hanabilah 1/29, dan ini adalah satu dari dua riwayat darinya)

13. Dan berkata Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb –rohimahulloh-: “Siapa yang ragu tentang kekafiran jahmiyah maka dia kafir.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam Syarh Madzhab Ahlis sunnah, hal. 28/31)

14. Dan berkata Isma’il bin Al-Muqri –rohimahulloh-: “Sesungguhnya keraguan tentang kafirnya kelompok Ibnu ‘Arobi adalah kekafiran.” (Muqhani Al-Muhtaj 4/97)

15. Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh- tentang kelompok Ibnu ‘Arobi: “Dan cukup bagimu mengetahui akan kekafiran mereka; bahwa di antara perkataan mereka yang paling ringan adalah (bahwa fir’aun mati dalam keadaan beriman terbebas dari dosa) ... dan sungguh telah diketahui secara pasti dalam agama para pemeluk agama-agama, orang-orang muslim, yahudi, dan nasrani; bahwa fir’aun di antara makhluk yang paling kafir terhadap Alloh.” (Majmu’ Al-Fatawa 2/125)

16. Dan berkata Syamsuddin Al-Halibi –rohimahulloh- tentang Ibnu ‘Arobi: “Bahwasannya dia kafir, dan kekafirannya lebih dahsyat dari kekafiran yahudi, nasrani, dan penyembah berhala, dan bahwa kitab-kitabnya wajib dibakar, serta setiap orang yang meyakini keislamannya maka dia kafir.” (Dinukil oleh Zainuddin Al-Malathi dalam “Nailul Amal fii Dzailid-dual” 7/352)

17. Dan berkata Syaikh Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –rohimahulloh- tentang Ibnu ‘Arobi: “Ahlul ‘Ilmi telah menyebutkan bahwa dia lebih kafir dari yahudi dan nasrani, dan sebagian mereka (Ahlul ‘Ilmi) berkata: orang yang ragu tentang kekafiran pengikutnya maka dia kafir.” (Ad-Duror As-Saniyah 2/45)

18. Dan berkata Syaikh Sulaiman bin Sahman –rohimahulloh- tentang Ibnu ‘Arobi dan Ibnul Faridh: “Dan mereka adalah termasuk penduduk bumi yang paling kafir menurut ulama muhaqqiqin, dan barangsiapa ragu tentang kekafiran mereka maka dia kafir.” (Al-Bayan Al-Mahdi li Syina’ati Qoulil Majdi, hal. 124)

19. Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh- tentang : “Duruz”: “Kekafiran mereka termasuk perkara-perkara yang kaum muslimin tidak berselisih di dalamnya, bahkan siapa yang ragu tentang kekafiran mereka maka dia kafir seperti mereka.” (Majmu’ al-Fatawa 35/162)

20. Dan berkata –rohimahulloh- tentang orang yang meyakini Hulul, ittihad, dan wihdatul wujud: “Dan barangsiapa ragu tentang kekafiran mereka setelah mengetahui ucapan mereka dan mengetahui agama islam maka dia kafir, seperti orang yang ragu tentang kekafiran orang-orang yahudi, nasrani, dan musyrik.” (Majmu’ al-Fatawa 2/368)

21. Dan berkata Ar-Ruhaibani –rohimahulloh-: “Kelompok Duruz dan Tayaminah yang mereka menyatakan aqidah-aqidah qoromithoh dan bathiniyah, dan seluruh kelompok-kelompok yang disebutkan: adalah orang-orang zindiq komunis, mereka mirip dalam keyakinan, dan sungguh kaum muslimin telah sepakat atas kekafiran mereka, dan barangsiapa ragu tentang kekafiran mereka maka dia kafir seperti mereka.” (Matholib Ulin-Nuha 6/285)

22. Dan berkata Syaikh Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –rohimahulloh-: “Bahwa rofidhoh ... apabila meyakini tentang ‘Ali atau Husain maka dia kafir menurut ijma’, dan orang sunni yang ragu tentang kekafirannya dia kafir.” (Ad-Duror As-Saniyah 10/129_dengan perubahan)

23. Dan berkata Abu As-Su’ud tentang rofidhoh: “Telah bersepakat ulama a’shor atas bolehnya membunuh mereka, dan bahwa orang yang ragu tentang kekafiran mereka dia kafir.” (Dinukil oleh Ibnu ‘Abidin dalam Al-‘Uqud Ad-Dariyah 1/103)

24. Dan berkata sebagian imam-imam dakwah Nejed: “Maka barangsiapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik dari daulah turkiyah dan para penyembah kuburan, seperti penduduk Makkah dan selain mereka dari kalangan orang-orang yang menyembah orang-orang sholih, dan mengganti tauhidulloh dengan kesyirikan, serta mengganti sunnah Rosul-Nya –shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan bid’ah-bid’ah, maka dia kafir seperti mereka.” (Ad-Duror As-Saniyah 9/291)

25. Dan berkata Mulla ‘Ali Al-Qori –rohimahulloh- tentang dajjal: “Maka sesungguhnya orang yang ragu tentang kekafiran dan kedustaannya dia kafir.” (Mirqotul Mafaatih 8/3470)

Kelima: Orang yang mengungkapkan takfir orang yang tawaqquf dalam pengkafiran orang yang terjatuh pada salah satu macam kekafiran yang disepakati.

26. Abu Bakr bin ‘Ayyas –rohimahulloh- ditanya tentang orang yang mengatakan al-Qur’an makhluk, maka beliau berkata: “Kafir, dan setiap orang yang tidak mengatakan sesungguhnya dia kafir maka dia kafir.” (Masaail Harbil Karomaani 3/1129)

27. Dan berkata Imam Sufyan bin ‘Uyainah –rohimahulloh-: “Al-Qur’an kalamulloh ‘Azza wa Jalla, barangsiapa mengatakan makhluk maka dia kafir, dan barangsiapa ragu tentang kekafirannya maka dia kafir.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdulloh bin Imam Ahmad dalam “As-Sunnah” 1/112/25)

28. Dan berkata Imam Ahmad bin Hanbal –rohimahulloh-: “Orang yang mengatakan al-Qur’an makhluk maka dia kafir, dan orang yang ragu tentang kekafirannya maka dia kafir.” (Thobaqoot Al-Hanabilah 1/173, dan ini riwayat darinya)

29. Dan berkata Zayid bin Harun –rohimahulloh-: “Barangsiapa berkata al-Qur’an makhluk maka dia kafir, dan orang yang tidak mengkafirkannya maka dia kafir, serta orang yang ragu tentang kekafirannya maka dia kafir.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Bathoh dalam Al-Ibanah Al-Kubro 6/57/257)

30. Dan berkata dua imam, Abu Hatim Ar-Rozi dan Abu Zur’ah Ar-Rozi –rohimahumalloh-: “Orang yang mengklaim bahwa al-Qur’an adalah makhluk maka dia kafir terhadap Alloh yang Agung dengan kekafiran yang mengeluarkan dari agama, dan orang yang ragu tentang kekafirannya di antara orang-orang yang paham maka dia kafir.” (Syarhu Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/197/321)

31. Dan berkata Harun bin Musa Al-Farwi –rohimahulloh-: “Al-Qur’an kalamulloh bukan makhluk, dan barangsiapa berkata; makhluk maka dia kafir, dan barangsiapa ragu tentang waqifah maka dia kafir.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdulloh bin Imam Ahmad dalam “As-Sunnah” 1/173/211, dengan sanad shohih)

32. Dan berkata Abu Khoitsamah Zuhair bin Harbin –rohimahulloh-: “Orang yang mengklaim bahwa al-Qur’an (yang ia adalah_pent) kalamulloh adalah makhluk maka dia kafir, dan orang yang ragu tentang kekafirannya maka dia kafir.” (Syarhu Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 2/282)

33. Dan berkata ‘Abdulloh bin ‘Umar bin Ar-Rommah –rohimahulloh-: “Orang yang berkata: (al-Qur’an makhluk) maka dia kafir, dan orang yang berkata: (sholat jum’at tidak wajib) maka dia kafir, dan orang yang ragu tentang kekafiran mereka maka dia kafir.” (Dinukil oleh Adz-Dzahabi dalam Tarikh Islam 5/851/218)

34. Dan berkata Muhammad bin Sahnun –rohimahulloh-: “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang mencela lagi menghina Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- kafir, dan ancaman dengan adzab Alloh berlaku atasnya, hukumnya menurut umat (islam) dibunuh, dan orang yang ragu tentang kekafirannya dan adzabnya kafir.” (Asy-Syafa bi Ta’riif Huquqil Mushthofa 2/215)

35. Dan Qodhi ‘Iyadh –rohimahulloh- menyebutkan perkataan orang yang berkata: “Bahwa kebanyakan orang-orang awam, para wanita, orang-orang yang lemah akalnya, pengikut nasrani dan yahudi, dan selain mereka tidak ada hujah atas mereka di hadapan Alloh, karena mereka tidak memiliki karakter yang mungkin dijadikan dalil.” Kemudian beliau –rohimahulloh- berkata: “Dan orang yang berkata demikian kafir menurut ijma’ berdasarkan kekafiran orang yang tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum nasrani, yahudi, dan setiap orang yang memisahkan diri dari agama kaum muslimin, atau tawaqquf dalam pengkafiran mereka atau ragu.” (Asy-Syafa bi Ta’riif Huquqil Mushthofa 2/280)

36. Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh-: “Maka barangsiapa yang berkata (sesungguhnya para penyembah patung-patung itu sekiranya meninggalkan mereka, sungguh mereka menjadi bodoh dari kebenaran sesuai kadar peninggalannya terhadap mereka), maka dia lebih kafir dari yahudi dan nasrani, dan orang yang tidak mengkafirkan mereka maka dia lebih kafir dari yahudi dan nasrani, karena sesungguhnya yahudi dan nasrani mengkafirkan para penyembah patung.” (Majmu’ al-Fatawa 2/128)

37. Dan berkata –rohimahulloh-: “Orang yang teridentifikasi dengan celaannya (adanya) klaim bahwa ‘Ali adalah ilaah, atau bahwa dia adalah nabi dan jibril salah dalam menyampaikan risalah, maka ini tidak diragukan kekafirannya, bahkan tidak diragukan kekafiran orang yang tawaqquf dalam mengkafirkannya.” (Ash-Shorim Al-Maslul, hal. 586, dan disebutkan dalam Ad-Duror As-Saniyah 8/219: Beliau berkata dalam Al-Iqna’: berkata Syaikhul Islam: “Orang yang berdo’a kepada ‘Ali bin Abi Tholib maka dia kafir”, dan kami tidak mendapatinya dalam Al-Iqna’ dan tidak juga dalam kitab-kitab Syaikhul Islam yang mana pun, akan tetapi terdapat dalam Al-Iqna’ 4/299 ungkapan nukilan dari “Ash-Shorim Al-Maslul” di atasnya, maka nampaklah bahwa apa yang di “Ad-Duror As-Saniyah” dan mereka adalah orang yang menukilnya, wallohu a’lam.)

38. Dan berkata Ibnu Wazir Ash-Shon’ani –rohimahulloh-: “Dan tidak ada keraguan bahwa orang yang ragu tentang kekafiran penyembah patung wajib dikafirkan dan orang yang tidak mengkafirkannya, dan tidak ada ‘illah dalam hal itu kecuali kekafirannya adalah sesuatu yang telah diketahui dalam agama secara pasti.” (Ar-Roudh Al-Baasim 2/509)

39. Dan beliau –rohimahulloh- berkata tentang jabariyah: “Dan kalau sekiranya mereka membolehkan pengadzaban Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-, dan bahwa Abu Lahab adalah pemilik syafa’at pada hari kiamat, sungguh kekafirannya telah diketahui secara pasti dalam agama, dan kekafiran orang yang tidak mengkafirkannya juga demikian.” (Ar-Roudh Al-Baasim 2/509)

40. Dan berkata Al-Baqo’i –rohimahulloh-: “Bahwa orang kafir itu adalah orang yang mengingkari apa-apa yang telah diketahui secara pasti dalam agama, dan orang yang ragu tentang kekafiran orang semacam ini dia kafir.” (Tahdzir Al-‘Ibad Min Ahlil ‘Inad bi Bid’atil Ittihaad 2/253)

41. Dan berkata Syaikh ‘Abdulloh bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –rohimahulloh-: “Orang yang berkata: (Sesungguhnya orang yang melafazhkan dua kalimat syahadat tidak ada yang memudhorotkannya sesuatu pun bersama keduanya), atau berkata: (Orang yang mendatangkan dua kalimat syahadat, sholat dan puasa tidak boleh dikafirkan, walaupun beribadah kepada selain Alloh), maka dia kafir, dan orang yang ragu tentang kekafirannya maka dia kafir, karena orang yang mengucapkan perkataan ini mendustakan Alloh dan Rosul-Nya, serta ijma’ kaum muslimin.” (Ad-Duror As-Saniyah 10/250)

42. Dan berkata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Lathif Alu Syaikh –rohimahulloh- tentang hari raya yang dilakukan di kuburan: “Maka orang yang meyakini kebolehannya dan kehalalannya, dan bahwasannya ia adalah sebuah ibadah dan agama, maka dia termasuk makhluk Alloh yang paling kafir dan sesat, dan orang yang ragu tentang kekafiran mereka setelah tegak hujah atas mereka maka dia kafir.” (Ad-Duror As-Saniyah 10/440)

43. Dan dan beliau –rohimahulloh- berkata: “Orang yang mengkhususkan sebagian tempat dengan suatu ibadah, atau meyakini bahwa orang yang wukuf di sisinya gugur darinya kewajiban haji, kekafirannya tidak ada keraguan di dalamnya bagi orang yang mencium aroma islam, dan orang yang ragu tentang kekafirannya, maka wajib menegakkan hujah atasnya, dan menjelaskan bahwa ini adalah kekafiran dan kesyirikan, dan menjadikan batu-batu itu (sebagai tempat wuquf_pent) adalah perbuatan menandingi syi’ar-syi’ar Alloh, yang Alloh menjadikan wuquf di dalamnya sebagai ibadah kepada Alloh, maka apabila tegak hujah atasnya dan dia bersikeras maka tidak ragu tentang kekafirannya.” (Ad-Duror As-Saniyah 10/443)

44. Dan berkata Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi –rohimahulloh- tentang orang-orang yang mengikuti undang-undang buatan: “Tidak ragu tentang kekafiran dan kesyirikan mereka kecuali orang yang Alloh lenyapkan bashirohnya dan jadikan buta dari cahaya wahyu seperti mereka.” (Adhoul Bayan 3/259)

[Disalin dari Pembangkit Atas Penyempurnaan Pembatal Ke tiga, Alih Bahasa: Abu Khonsa’, Robi’uts Tsani 1439 H, Diterbitkan oleh PENYEBAR BERITA]

Alfatawa.ID | @alfatawaid