Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Menemukan Kelezatan Ibadah

Oleh Syaikh ‘Umar bin Mahmud Abu ‘Umar

قال أحمد بن حرب: "عبدت الله خمسين سنة، فما وجدت حلاوة العبادة حتى تركت ثلاثة أشياء: تركت رضا الناس حتى قدرت أن أتكلم بالحق، وتركت صحبة الفاسقين حتى وجدت صحبة الصالحين، وتركت حلاوة الدنيا حتى وجدت حلاوة الآخرة".
سير أعلام النبلاء

Berkata Ahmad bin Harb: “Selama 50 tahun aku beribadah pada Allah, tidak aku temukan kelezatan ibadah sampai aku meninggalkan tiga perkara. Aku tinggalkan ridha manusia hingga aku mampu mengatakan al-haq, aku tinggalkan pertemanan dengan orang-orang fasik hingga aku menemukan teman shalih dan aku tinggalkan kenikmatan dunia sampai aku menemukan kenikmatan akhirat”. (Sairu Alam An-Nubala)

Orang ini adalah imam, tauladan dan ahli ibadah seperti yang diutarakan dalam Kitab Ar-Rijal Imam Adz-Dzahabi rahimahullah. Perkataannya merupakan pengalaman diri meraih pencapaian ibadah. Menurutnya, untuk berhasil menaiki tiap tangga ibadah dia harus meninggalkan tiap tangga pantangannya yaitu hawa nafsu. Hamba tidak akan mampu menaiki tahapan sampai dia berjihad meninggalkan tahapan lawannya. Inilah kesimpulan menjadi seorang ahli ibadah berdasarkan pengalaman beliau.

Tujuan yang ingin digapai dengan melakukan hal tersebut yaitu seperti yang disebutkan dalam hadits:

وجعلت قرة عيني في الصلاة

“Dan dijadikan bagiku shalat sebagai permata indah.”

Saat hamba bisa merasakan keindahan shalat, disitulah dia menemukan kelezatan ibadah dan kenikmatan munajat. Padahal, ibadah merupakan taklif (pembebanan) tapi bergeser menjadi sesuatu yang dilaksanakan dengan penuh cinta tanpa beban. Jika sudah demikian saat itulah seorang hamba menerima Allah dengan sangat bahagia.

Ada dua syarat agar tujuan ibadah bisa diraih.

Pertama: Sisi kuantitas, seperti sabda salallahu alaihi wassalam:

فأعني على نفسك بكثرة السجود

“Bantu dirimu dengan banyak sujud.”

Dan seperti firman Allah ta’ala:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah.” (Al-Ahzab: 35)

Demikian pula dalam sabdanya yang lain:

أكثروا من ذكر هادم اللذات

“Perbanyak zikir! Kamu akan menemukan kelezatan.”

Allah berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (Adz-Dzariat: 17)

Kedua: Menghadirkan makna ketika ibadah, yaitu dengan menghadirkan hati dengan bekal ilmu dan kesadaran. Dengan cara memperhatikan maknanya baik terperinci maupun cabang. Kadangkala salah satunya menguat sedangkan yang lainnya melemah.

Saat otak melemah untuk tafakur maka dukung dengan banyak zikir. Sebaliknya saat lisan lemah berzikir ganti dengan banyak tafakur. Tetapi jika keduanya lemah maka dia tidak akan menemukan kelezatan ibadah, hilanglah kebaikan yang agung.

Terdapat beberapa penghalang hati yang mencegah seseorang menemukan kelezatan iman, yaitu yang disebutkan oleh imam tauladan dalam ibadah lagi zuhud ini:

Pertama, mencampakkan ridha makhluk dan tidak menoleh sedikitpun. Sebabnya, makhluk merupakan sesuatu yang kosong, tidak membahayakanmu jika mereka semua marah padamu dan tidak memberi manfaat padamu sedikitpun jika mereka ridha padamu. Palingkan hatimu dari mencari ridha mereka. Apabila hati mereka ridha padamu mereka tidak akan menghasad, tidak akan menyelisihi manhaj, tidak akan mengikuti hawa nafsu.

Seperti perkataan Asy-Syafii:

رضا الناس غاية لا تدرك، فعليك بما ينفعك فالزمه

Ridha manusia tujuan yang tidak ada habisnya. Hendaklah kamu fokus berbuat yang membuahkan manfaat lalu konsisten saja.

Jalan ibadah tidak akan bisa lurus kecuali bila hamba tersebut memandang akhirat dan mengumpulkan satu cita-cita yaitu mencari ridha Allah demi menggapai jannah.

Mencari ridha manusia hanya akan menghabiskan waktu karena dia tidak akan mampu meraihnya dan tidak akan menemukan solusi. Karena itu banyak orang yang menjadi bunglon, keikhlasannya menjadi sedikit lalu rusaklah dien.

Pada akhirnya, penyakit paling berbahaya yang bisa merusak hamba adalah mencari ridha manusia. Dengannya dia menjadi meninggalkan perkataan yang haq, khususnya bagi dai, ulama dan ahli ibadah.

Padahal hamba tidak akan mampu merasakan kelezatan ibadah sampai dia bisa mengatakan al-haq. Dan kamu tidak akan bisa mengatakan al-haq kecuali jika kamu memiliki teman yang shalih, yang akan mengingatkanmu saat kamu lupa, menguatkanmu jika kamu menyebutnya. Jika kamu memiliki teman yang shalih, dien kamu akan sentiasa menyala dalam segala situasi dan kondisi.

Siapa yang mendiamkan kebatilan tidak akan bisa menikmati kelezatan ibadah, apalagi jika dia berteman dengan teman yang buruk, sejahat-jahat makhluk. Dia akan terkatung-katung antara hasad dan kesombongan. Setelah itu Allah haramkan dia memahami makna peribadatan, hatinya menjadi menghitam seterusnya dia akan lari dari ketaatan.

Tinggalkan ridha makhluk dan terimalah Allah saja, kamu akan mendapatkan kebaikan yang agung. Namun dengan meninggalkan mereka bukan berarti kita menyakitinya, tidak menasehatinya agar memperoleh hikmah dan tidak meninggalkan cinta kebaikan bagi kaum muslimin. Sebab ada sebagian orang menyangka meninggalkan ridha manusia artinya membenci kebaikan bagi mereka, tidak menyukai mereka atau berbuat buruk pada mereka.

Inilah makna kedua yang disebutkan oleh Imam, yakni berteman dengan orang-orang shalih dan meninggalkan teman-teman yang buruk. Merekalah yang menguatkan kamu pada kebaikan, menguatkan kondisimu dan perkataanmu.

Kadangkala perkataan mereka tidak kamu senangi, tetapi akal dan hati mereka bermanfaat bagimu. Jagalah mereka dan berkatalah dengan perkataan yang lembut. Lalu luaskan dada dan hatimu untuk mereka. Selalu mendoakan mereka. Siapa yang menemukan saudara yang shalih dia adalah orang yang cerdas, tidak akan membahayakan dirinya sikap manusia setelahnya.

Ketiga: Tenggelamnya hamba pada makna dan tidak terlengahkan. Dua rumus ini yang akan menyibukkan hati; memperhatikan makna atau dengan memperbanyak kuantitasnya dengan selalu berlatih.

Akhirat adalah negeri ghaib, negeri makna hati. Sedangkan dunia adalah negeri materi. Hamba akan memperoleh kebaikan ketika dia mampu membakar hijab penghalang dengan hati dan akalnya. Dia akan menikmati munajat pada Allah, aktivitas keghaiban yang paling agung. Dia akan rajin bershalawat dan mengucapkan salam pada Nabi tercinta dengan keyakinan salam kita akan diantarkan ke kubur Nabi lalu beliau membalas salam kita.

Saat dia berzikir pada Allah, dia bisa melihat dengan hatinya Allah menyebut namanya. Karena sesungguhnya siapa yang menyebut Allah maka Allah akan menyebut namanya, apabila malaikat menyebutnya maka Allah akan menyebutnya dihadapan malaikat. Dengan ini menyala kehidupan keghaiban dan akhirat. Dia shalat sambil melihat disetiap sujudnya dia menaiki tangga derajat di jannah. Dia bersedekah dan melihat sedekahnya tumbuh berkembang di hadapan Allah.

Inilah alam ghaib, yaitu alam segala makna hati sebagai syarat mendapatkan kelezatan ibadah karena dia membumikan makna-makna ibadah. Manusia itu hidup diantara pertempuran hati; kehidupan maknawi dan materi. Siapa yang berhasil mengalahkan perut dan kemaluannya dengan tafakur, dia akan memperoleh ilmu yang membuatnya naik dalam mizan Allah taala. Karena dia pada hari kiamat akan mendapatkan apa yang ada dalam dada.


والحمد لله رب العالمين


Penulis: Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini hafizhahullah
Alih bahasa: Zen Ibrahim
11 Jumadil Awal 1440 H / 17 Januari 2019

Download PDF

Sumber terjemahan: Channel Resmi Syeikh Abu Qatadah https://t.me/ShAbuQatadah2

Ikuti update project penerjemahan kami di Pustaka Qolbun Salim.
Website www.pustakaqs.blogspot.com
Fanspage https://www.facebook.com/pustakaqolbunsalim
Channel Telegram @pustakaqolbunsalim https://t.me/pustakaqolbunsalim

[Disalin dari Menemukan Kelezatan Ibadah]


Alfatawa.ID | @alfatawaid