Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Melihat Dakwah Nabi Muhammad SAW

Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam datang kepada manusia dan bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kalian semua. Dengan agama Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu agama Islam. Agama yang sama dengan agama semua nabi yang diutus oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebelumnya.”

Beliau kemudian bersabda, “Maka kami para nabi semuanya kami bersaudara. Semuanya kami utusan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Agama kami satu tak berbeda, yaitu mengesakan Allah, beribadah kepada Allah semata dan tanpa menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Kami tidak beribadah, kecuali hanya kepada-Nya saja. Bahkan kami mengingkari setiap peribadatan kepada selain-Nya karena sesungguhnya setiap peribadatan kepada selain-Nya adalah peribadatan yang batil, tidak berhak diibadahi. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan tidak berhak menyukutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Ini adalah agama kita dan risalah kita. Pada dasarnya, ia adalah agama semua nabi dan rasul sebelumnya. Tak berbeda.

Agama yang menyeru manusia kepada keimanan pada semua utusan Allah Ta‘ala dan semua kitab-Nya. Mereka tidak berpecah sehingga mereka beriman pada satu bagiannya dan kafir pada bagian yang lain, tetapi mereka beriman bahwa semua itu benar dan semuanya berasal dari sisi Allah.

Setiap rasul ini agama mereka dan dakwah mereka kepada manusia adalah, “Beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Adapun syariat-syariatnya, hukum-hukumnya, dan undang-undangnya, maka ini berbeda dari risalah nabi satu ke nabi lainnya.

Sebagai contoh, dalam ibadah seperti salat, puasa, sedekah, dan selainnya berbeda hukum-hukumnya dari satu risalah ke risalah yang lain. Dari mulai bagaimana menjalankannya, waktunya, jumlahnya, kadarnya, dan yang lainnya.

Begitu pula dalam masalah tahlil wat tahrim (penghalalan dan pengharaman), berbeda sebagian hukum-hukumnya dari satu risalah ke risalah yang lain. Terkadang Allah mengharamkan sesuatu atas suatu kaum pada satu risalah, namun Dia tidak mengharamkannya atas kaum yang lain pada risalah yang lain. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Al Hakim, Pemberi keputusan yang paling sempurna. Dia menghendaki kita dengan kebaikan dan kebenaran dan memberi kita kasih sayang dan kebahagiaan.

Setiap nabi menyampaikan risalah Allah kepada kaumnya, maka datang Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam dengan risalah yang terakhir.

Beliau bersabda, “Aku adalah utusan Allah yang terakhir dengan risalah yang terakhir kepada semua manusia dan semua keturunan mereka pada setiap tempat di bumi ini sampai berakhirnya dunia dan hancurnya ia.”

Dikarenakan ia (risalah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam) adalah risalah yang terakhir dan tidak ada risalah setelahnya, maka ia adalah risalah yang paling sempurna, paling luas, paling lengkap, paling detail, paling mudah, dan yang paling berisi dengan sifat sempurna.

Maka setiap makhluk di muka bumi ini diseru kepada keimanan dengan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, dengan risalahnya yang berasal dari Allah. Wajib bagi setiap manusia beriman dan mengikuti beliau serta pada setiap yang beliau bawa, kemudian menjadi seorang muslim.

Penulis: Syaikh Mujahid ‘Athiyyatullah al-Libi taqabbalahullah
Penerjemah: M. Febby Angga ‘affallahu ‘anh
Sumber: Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, hlm. 13-14.

Alfatawa.ID | @alfatawaid