Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Hukum Membagi Tauhid Menjadi Empat

Oleh Syaikh ‘Ali bin Khudhair al-Khudhair

Yang betul adalah membagi tauhid menjadi empat boleh, yaitu ditambah bagian yang keempat Tauhid Al Hakimiyah, dan tidak boleh dikatakan bahwa ini bid'ah. Justru yang membid'ahkan salah kaprah karena kelompok yang memilih membaginya menjadi dua lantas datang kelompok lain yang membaginya menjadi tiga, sesuai ucapan di atas seharusnya kelompok yang membagi dua harus membid'ahkan yang membaginya menjadi tiga!!

Dari kalangan ahli ilmu ada juga yang membaginya sampai lima bagian, ditambah dengan bagian yang kelima yaitu Tauhid al-Ittibaa', apakah mereka juga ahli bid'ah!? Ingat! Kaedahnya adalah “Laa Musyaahataa fi al-Istilah” yang maknanya (tidak ada saling menyalahkan dalam masalah istilah jika keduanya bermakna sohih).

Realitanya menonjolkan dan fokus dalam satu bagian tauhid, meskipun asalnya dia adalah cabang dari bagian sebelumnya adalah hal yg tidak masalah dan tidak ada larangan dalam hal ini, contoh kasus seperti ini sangatlah banyak.

Justru hakikatnya Tauhid al-Haakimiyah berasal dari Tauhid al-Asmaa' wa as-Shifaat, terbangan berdasarkan nama Allah al-Hakam (Maha Berhukum) dan ini disebutkan di dalam sebuah hadis «Sesungguhnya Allah adalah al-Hakam dan kepadaNyalah kembali semua perhukuman» dan juga Tauhid al-Hakimiyah dibangun berdasarkan sifat Allah at-Tashorruf (mengontrol/mengendalikan) dan sifat ini termasuk kandungan dari sifat Rububiyah Allah, yakni Allah mengontrol semua makhluk dengan perintah dan laranganNya, di manakah letak kebid'ahannya!? Si orang yang membid'ahkan ini jikalau tidak mujtahid yang salah, ini jika dia terkenal sebagai ahli shidiq (kejujuran), atau Jahil dhool( bodoh dan sesat) atau bisa jadi dia pendukung dan pengacara para penguasa yang mengubah hukum-hukum Allah.

[Lihat Kitab al-Wasiith Syaikh Ali al-Khudoir tsabbatahullah, hlm.26-27]

Penerjemah: Abu Musa al-Mizzi

Catatan kaki:

[1] Ada dari kalangan ulama yg membaginya menjadi dua bagian, dan ada yg membaginya menjadi tiga bagian.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan di dalam Rosaailnya :

و التوحيد ثلاثة أصول؛ توحيد الربوبية و توحيد الألوهية و توحيد الذات و الأسماء و الصفات

“Tauhid memiliki tiga asas; Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Dzat wa Asmaa' wa Shifaat”

Sehingga dari penjelasan Sh.Muhammad bin Abdul Wahhab Tauhid terbagi menjadi tiga :
1. Tauhid Rububiyah
2. Tauhid Uluhiyah
3. Tauhid Dzat dan Asmaa' wa Shifaat

Adapun Imam Ibnu al-Qoyyim membagi tauhid menjadi dua :

توحيد علمي خبري اعتقادي و توحيد عملي إرادي طلبي

“(Tauhid terdapat dua bagian);Tauhid Ilmiy Khobariy I'tiqoodiy, dan Tauhid 'Amaliy Iroodiy Tholabiy”

Sehingga bisa kita simpulkan menurut Imam Ibnu al-Qoyyim Tauhid terbagi dua :
1. Tauhid 'Ilmiy Khobariy I'tiqodiy
2. Tauhid 'Amaliy Iroodiy Tholabiy

Lantas dari dua metode ini mana yg lebih utama?

Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab berkata di awal Kitab Tafsirnya :

يجوز هذا و يجوز هذا؛ أي يجوز تقسيم ثنائي أو ثلاثي لأن المعنى صحيح و لا مشاحة في الاصطلاح

“Boleh ini dan boleh ini; yakni boleh dibagi dua dan boleh dibagi tiga, karena makna dari keduanya sohih sehingga sesuai kaedah laa musyaahata fi al-Istilaah (tidak ada saling menyalahkan dalam perbedaan istilah selama maknanya benar semua).” [Pent,]

Alfatawa.ID | @alfatawaid