Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Galat Organisasi Tradisional: Kepemimpinan yang Tidak Mumpuni

Oleh Syaikh Mushthafa bin ‘Abdil Qadir Siti Maryam Nashar

Sebagaimana pernah saya jelaskan, amir dan para pembantu utama hijrah menuju negara lain atau wilayah lain karena tekanan pemerintah, mereka bersembunyi di tempat aman di negara tetangga terdekat atau bahkan mungkin di tempat yang jauh. Komunikasi dengan jaringan dilakukan melalui kurir atau dengan alat-alat seperti telepon, fax dll. Komunikasi seperti ini ternyata menjadi pembunuh bagi tanzhim. Sebuah titik lemah penetrasi intelejen.

Tatkala pemimpin-pemimpin utama yang memiliki pengalaman operasional kemiliteran hijrah akan digantikan oleh pemimpin-pemimpin bidang siyasi (politik) dan bidang dakwah yang dengan cepat menciptakan masalah-masalah baru yang tak terhitung banyaknya.

Saya sendiri melihat dengan mata kepala saya sendiri sejumlah eksperimen seperti yang saya gambarkan di atas berkontribusi pada kehancuran operasi jihad. Revolusi jihad Suriah yang saya hidup di dalamnya adalah salah satu contoh nyata.

Kepemimpinan Ikhwanul Muslimin di sekitar Suriah seperti Baghdad dan Aman telah stabil. Mereka kemudian merancang strategi perlawanan politik, militer, dan keamanan untuk Suriah, padahal mereka tidak mengetahui realitas dalam negeri Suriah kecuali hanya sedikit. Saya menggumam, strategi mereka hanya menjadi denah rencana dalam ruang hampa. Pemimpin lapangan di Suriah dipaksa melaksanakan order sulit karena tidak sesuai dengan realitas dalam negeri. Akan tetapi mereka terpaksa melaksanakannya karena tuntutan baiat dan asam’u wa tho’at.

Belum lagi gesekan dan perselisihan yang sering terjadi di internal masing-masing jama’ah. Kondisi ini saya temukan di beberapa negeri Arab dan mereka memiliki problem yang sama. Para qiyadah itu telah mengalihkan fungsi jama’ah dari jama’ah jihadiyah menjadi jama’ah perekrutan massa dan mengalihkan keqiyadahan menjadi kepemimpinan politik serta dakwah. Mereka meninggalkan aktivitas militer dan kemudian mengangkat pemimpin baru dari kader muda.

Namun yang terjadi, para qiyadah lama selalu menempel rincian kebijakan yang dikeluarkan oleh para pemimpin baru dari kader muda, mereka tidak mempercayakan 100% kepemimpinan pada pemimpin muda. Para orang tua berusaha mempertahankan status quo. Masalah-masalah ini menambah runyam problem yang telah ada sebelumnya.

Sumber: Maktabah Jahizuna

Alfatawa.ID | @alfatawaid