Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Dalil-Dalil Kafirnya Orang yang Tidak Mengafirkan Orang Kafir

Oleh Syaikh Yusuf bin Ahmad al-Mathiri

Telah kita lewati pada pasal yang telah lalu bahwa ungkapan-ungkapan Ahlul ‘Ilmi sangat banyak tentang penjelasan kekafiran orang yang tidak mengkafirkan orang kafir, telah kita lalui bahwa di antara mereka ada yang menyebutkan kekafiran secara mutlak, atau secara umum pada setiap orang kafir yang disikapi tawaqquf, dan di antara mereka ada yang mengungkapkan tentangnya secara muqoyyad dengan kelompok-kelompok tertentu, atau jenis-jenis kekafiran tertentu, dan oleh karena itu sangat banyak dalil-dalil Ahlul ‘Ilmi atas pembatal ini sesuai kondisi yang mereka ungkapkan, dan berikut ini kami sebutkan dalil-dalil tersebut secara urut sesuai nash-nash Ahlul ‘Ilmi tentang pengkafiran orang yang tawaqquf terhadap orang kafir yang telah kami sebutkan pada pasal yang telah lalu;

Pertama: Dalil orang yang mengungkapkan pembatal ini dan menyebutkannya secara mutlak atau secara umum;

Dan dalil atas hal itu adalah nash dan ijma’;

Sungguh Alloh ta’ala telah berfirman:

وَمَن لَّمۡ يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ فَإِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَعِيرٗا ١٣

“Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.” (QS. Al-Fath: 13)

Dan Alloh ta’ala berfirman:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢

“Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” (QS. Al-Kafirun: 1–2)

Maka sesungguhnya orang-orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik tidak membenarkan al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an telah mengkafirkan orang-orang musyrik dan memerangi mereka. (Ad-Duror As-Saniyah 9/291)

Orang yang sampai kepadanya al-Qur’an dan tidak menamakan orang yang tidak beriman kepada Alloh dan rosul-Nya itu orang kafir, atau tidak menamakan orang yang menyembah selain Alloh itu kafir maka dia mendustakan atau berpaling dari ayat-ayat al-Qur’an yang telah lalu, dan menolak hukum Alloh tentang orang-orang kafir, maka dia terkena ayat Alloh ta’ala:

۞فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَذَبَ عَلَى ٱللَّهِ وَكَذَّبَ بِٱلصِّدۡقِ إِذۡ جَآءَهُۥٓۚ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ٣٢

“Maka siapakah yang lebih zholim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Alloh dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?” (QS. Az-Zumar: 32)

Dan firman Alloh ta’ala:

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِئَايَٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعۡرَضَ عَنۡهَآۚ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ ٢٢

“Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robb-nya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajadah: 22)

Dan firman Alloh ta’ala:

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِئَايَٰتِ ٱللَّهِ وَصَدَفَ عَنۡهَاۗ

“Maka siapakah yang lebih zholim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Alloh dan berpaling daripadanya?” (QS. Al-An’am: 157)

Dan firman Alloh ta’ala:

وَمَا يَجۡحَدُ بِئَايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٧

“Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir.” (QS. Al-‘Ankabut: 47)

Dan ayat-ayat selainnya.

Sungguh telah diriwayatkan ijma’ atas hal itu, seluruhnya dari Abul Hasan Al-Malathi, dan Syaikh Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –rohimahumalloh-.

Kedua: Dalil takfir orang yang tawaqquf terhadap orang yang tidak beragama islam secara umum.

Dan menunjukkan atas hal itu semua dalil-dalil yang telah lalu dan ditambahkan kepadanya firman-Nya ta’ala:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam” (QS. Ali Imron: 19)

Dan firman Alloh ta’ala:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron: 85)

Dan firman Alloh ta’ala:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan” (QS. Saba’: 28)

Dan firman Alloh ta’ala:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيّٖـنَۗ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Maka siapa yang tidak mengkafirkan setiap orang yang beragama dengan agama apapun selain islam setelah diutusnya beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam- maka dia mendustakan ayat-ayat ini yang menunjukkan bahwa Alloh ta’ala tidak menerima agama selain islam, dan menunjukkan atas keumuman risalah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam-, dan bahwa beliau adalah penutup para nabi.

Dan demikian juga sesungguhnya orang yang tawaqquf terhadap orang yang tidak beragama dengan islam setelah diutusnya Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- menyelisihi ijma’ yang qoth’i yang ditunjukkan oleh nash-nash yang telah lalu, dan bahwa beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam- adalah penutup para nabi dan beliau diutus kepada seluruh manusia.

Qodhi ‘Iyadh –rohimahulloh- berkata: “Beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah mengabarkan bahwa beliau penutup para nabi, dan bahwa beliau diutus bagi seluruh manusia, dan umat telah bersepakat membawa ucapan ini seperti zhohirnya, dan bahwa ia dipahami sebagaimana yang dimaksud tanpa ta’wil dan pengkhususan, maka tidak ada keraguan tentang kekafiran kelompok-kelompok itu seluruhnya secara qoth’i, ijma’ dan sam’i.” (Asy-Syafa bi Ta’riif Huquqil Mushthofa 2/285)

Dan orang yang menyelisihi ijma’ qoth’i yang bersandar kepada nash-nash al-Qur’an dan sunnah dia kafir, dan dia terkena ayat Alloh ta’ala:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Dan dari Al-Harits Al-Asy’ari –rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal saja maka sungguh dia telah melepaskan ikatan islam dari lehernya, kecuali dia kembali.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam sunannya 5/148/2863, dan beliau berkata: “Ini hadits hasan shohih ghorib”)

Dan orang yang menyelisihi ijma’ yang nash qoth’i telah tetap di dalamnya maka tidak ada perselisihan di dalam pengkafirannya, dan hal itu berbeda dengan ijma’ yang qoth’i yang tidak diketahui adanya nash yang dijadikan sandaran, maka menurut Ahlul ‘Ilmi tentang orang yang menyelisihi ijma’ zhonni maka tidak dikafirkan.

Berkata Ibnu Daqiq Al-‘Ied –rohimahulloh-: “Bahwa ijma’ terkadang disertai dalil-dalil yang mutawatir dengan menukil dari pemilik syari’at, dan terkadang tidak, maka yang pertama tidak diperselisihkan dalam pengkafirannya –yaitu orang yang menyelisihi ijma’- dan yang kedua terkadang berselisih tentangnya.” (Dinukil oleh Az-Zarkasyi dalam Al-Bahr Al-Muhith 6/500)

Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh-: “Dan sungguh manusia telah berselisih tentang orang yang menyelisihi ijma’; apakah dia kafir? Ada dua pendapat, dan yang pasti; bahwa ijma’ yang telah diketahui maka orang yang menyelisihinya kafir sebagaimana kafirnya orang yang menyelisihi nash dengan meninggalkannya, akan tetapi ini tidak terjadi kecuali pada apa-apa yang dia mengetahui akan tetapnya nash di dalamnya, adapun mengilmui dengan tetapnya ijma’ dalam suatu permasalahan yang tidak ada nash di dalamnya maka ini tidak terjatuh, dan adapun (ijma’) yang tidak ma’lum maka tidak dikafirkan.” (Majmu’ Al-Fatawa: 18/270)

Dan berkata Shofiyuddin Al-Hindi Asy-Syafi’i –rohimahulloh-: “Orang yang mengingkari hukum yang telah disepakati karena ia perkara yang disepakati dengan ijma’ yang qoth’i tidak kafir menurut jumhur, berbeda bagi sebagian fuqoha’, akan tetapi kami batasi dengan ucapan kami: (karena ia perkara yang disepakati), karena orang yang mengingkari wajibnya sholat lima waktu dan apa-apa yang sejalan dengannya kafir, sedangkan ia adalah perkara yang disepakati, akan tetapi bukan karena ia adalah perkara yang disepakati, akan tetapi karena ia adalah perkara yang telah diketahui secara pasti bahwa ia bagian dari agama Muhammad –shollallohu ‘alaihi wa sallam- hanya saja kami batasi pada ijma’ yang qoth’i, karena orang yang mengingkari hukum ijma’ zhonni tidak kafir.” (Nihayatul Wushul fii Diroyati Ushul 6/2679, dan Az-Zarkasyi mensifati ungkapannya ini bahwa ia “sangat baik” sebagaimana dalam Al-Bahr Al-Muhith 18/270)

Ketiga: Dalil takfir orang yang tawaqquf terhadap kelompok-kelompok yang tidak beragama islam;

Dan sungguh telah menunjukkan atas takfir orang yang tawaqquf terhadap kelompok-kelompok itu semua apa yang telah lalu berupa nash-nash atau ijma’, dan ditambahkan kepadanya nash-nash yang menunjukkan kekafiran kelompok-kelompok itu dengan ta’yin, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۚ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Alloh itu ialah Al Masih putera Maryam". (QS. Al-Maidah: 17)

Dan firman-Nya ta’ala:

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Alloh salah satu dari yang tiga” (QS. Al-Maidah: 73)

Dan firman-Nya ta’ala:

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al-Maidah: 78)

Dan firman-Nya ta’ala:

لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ١

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah: 1)

Dan dari Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu- dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari umat ini mendengar tentangku, yahudi maupun nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Shohih Muslim 1/93/303)

Dan berkata Ibnu Hazm –rohimahulloh-: “Dan mereka bersepakat atas penamaan yahudi dan nasrani orang-orang kafir.” (Marotibul Ijma’, hal. 119)

Dan sungguh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kesepakatan kaum muslimin atas kafirnya orang yang tidak mengkafirkan yahudi dan nasrani sebagaimana yang telah lalu.

Maka orang yang tawaqquf dalam mengkafirkan yahudi dan nasrani, dan yang semisal dengan mereka, dia mendustakan nash-nash ini dan seluruh apa yang telah lalu penyebutannya, dan dia menyelisihi ijma’ yang qoth’i yang bersandar kepada nash-nash al-Kitab (al-Qur’an) dan sunnah atas kafirnya yahudi dan nasrani secara khusus, dan setiap orang yang tidak beragama islam secara umum.

[Disalin dari Pembangkit Atas Penyempurnaan Pembatal Ke tiga, Alih Bahasa: Abu Khonsa’, Robi’uts Tsani 1439 H, Diterbitkan oleh PENYEBAR BERITA]

Alfatawa.ID | @alfatawaid