Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Benarkah Istilah Tauhid Hakimiyyah Itu Bidah? (Bag. 2)

Oleh Syaikh ‘Isham bin Muhammad al-Burqawi

Baca bagian pertama: Benarkah Istilah Tauhid Hakimiyyah Itu Bidah? (Bag. 1)

Karena bagaimana tidak seperti itu, sedangkan ia adalah bagian terpenting dari abwabuttauhid, yang mana ia adalah hak Allah atas hamba-hamba-Nya, bukankah Allah Tabaraka wa Ta'ala telah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang Rasul, (agar mereka menyerukan): Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An Nahl [16]: 36)

Jadi ini adalah inti millah para nabi serta poros roda dakwah mereka seluruhnya. Dan karenanya Allah ciptakan makhluk, Dia berfirman: “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56)

Yaitu mereka mentauhidkan-Ku dalam ibadah, atau beribadah kepada-Ku saja sebagaimana yang dituturkan ahli tafsir.

Dan ia tergolong al urwatul wutsqa yang barang siapa berpegang teguh dengannya, maka dia selamat dan siapa yang berpaling darinya maka dia rugi, binasa dan sesat dengan kesesatan yang nyata, Allah Ta'ala berfirman, “...sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 256)

Atas dasar ini, maka tidak ada keraguan bahwa ia adalah abwabuddin yang paling agung, intinya dan rukun-rukun akidah yang paling urgent.

Al Halabiy sendiri telah menukil hal seperti ini (hal. 5) dalam Muqaddimahnya dari Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman Ibnu Hasan Alu Asy Syaikh ucapannya,

«وأحكامه التي أصلها توحيده وعبادته وحده لا شريك له»انتهى.

“Dan hukum-hukum-Nya yang intinya adalah mentauhidkan-Nya dan ibadah kepada-Nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Dan kakek beliau Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata:

«أصل دين الإسلام وقاعدته أمران: الأول: الأمر بعبادة الله وحده لا شريك له والتحريض على ذلك والموالاة فيه وتكفير من تركه . والثاني : الإنذار عن الشرك في عبادة الله والتغليظ من ذلك والمعاداة فيه وتكفير من فعله»

“Inti dienul Islam dan pondasinya ada dua:
Pertama:
Perintah untuk beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Memberikan semangat atas hal itu. Berloyalitas di dalamnya.
Dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya.
Kedua:
Memberikan peringatan dari syirik dalam ibadah kepada Allah.
Menyikapi dengan keras terhadap hal itu.
Melakukan permusuhan di dalamnya. Dan mengkafirkan orang yang melakukannya.”

Kenapa saya pergi jauh dalam memberi contoh... Ini dia guru kamu sendiri, (yakni) Al Albani menetapkan hal ini dan menggunakan mushthalah ini yang kamu kecam dan kamu kecam pula orang-orang yang memakainya..., di mana dia berkata dalam jilid ke enam dari As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no: 2507, hal. 30:

أن ( من أصول الدعوة السلفية أن الحاكمية لله وحده ) أهـ .

“Bahwa di antara usul dakwah Salafiyyah adalah bahwa al hakimiyyah itu milik Allah saja.”

Bisa jadi kamu tidak mengetahui apa yang ditulis guru kamu dan tidak mengetahui usul dakwah Salafiyyah yang kamu klaim...!! atau kamu mengetahui hal ini darinya dan kamu pura-pura tidak melihat karena boleh bagi sang guru yang menurutmu apa yang tidak boleh bagi orang lain...!!! Bukankah demikian wahai murid...???

Jadi, Al haq (adalah,ed.) bahwa bab Tauhid Al Uluhiyyah dan segala yang berkaitan dengannya, baik itu dinamakan dengan Al Hakimiyyah atau yang lainnya –tidak ragu ia tergolong ushuluddin yang paling penting– dan oleh karena itu Alquran dari awal hingga akhir hanyalah diturunkan untuknya.

Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata,

«إنَّ كلّ آية في القرآن متضمنة للتوحيد شاهدة به داعية إليه، فإنّ القرآن:ـ
-إمّا دعوة إلى عبادة الله وحده لا شريك له وخلع كلّ ما يُعبد من دونه فهو التوحيد الإرادي الطلبي.
-وإما أمرٌ ونهي في حقوق التوحيد ومُكملاته.
-وإما خبرٌ عن كرامة الله لأهل التوحيد وما فعل بهم في الدنيا وما يكرمهم به في الآخرة فهو جزاء التوحيد.
-وإما خبرٌ عن أهل الشرك وما فعل بهم في الدنيا من النكال وما يحل بهم في العقبى من العذاب فهو خبر عمن خرج عن حكم التوحيد.
-وإما خبرٌ عن الله وأسمائه وصفاته وأفعاله فهو التوحيد العلمي الخبري.
فالقرآن كلّه في التوحيد وحقوقه وجزائه وفي ضدّه الشرك وأهله وجزائهم»انتهى مختصراً.

“Sesungguhnya setiap ayat dalam Alquran mengandung tauhid, menjadi saksi baginya lagi mengajak kepadanya, karena Al Qur’an itu:
Bisa berbentuk ajakan kepada ibadatullah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, serta melepas segala yang diibadati selain-Nya. Ia adalah tauhid iradiy thalabiy.
Bisa berbentuk perintah dan larangan dalam haq-haq tauhid dan hal-hal yang merupakan kesepurnaannya.
Bisa berbentuk berita tentang pemberian Allah untuk ahlut tauhid dan apa yang Dia perlakukan terhadap mereka di dunia serta apa yang Dia berikan kepada mereka di akhirat. Ia adalah balasan tauhid.
Bisa berbentuk berita tentang ahlusy syirki dan apa yang Dia perlakukan terhadap mereka di dunia berupa siksa dan apa yang menimpa mereka kelak berupa adzab. Ia adalah berita tentang orang yang keluar dari hukum tauhid. Dan bisa berbentuk berita tentang Allah, Nama-nama-Nya, Shifat-Shifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Ia adalah tauhid Ilmiy Khabariy.
Jadi, Al Quran seluruhnya tentang Tauhid, haq-haqnya dan balasannya serta tentang lawannya yaitu syirik, para pelakunya dan balasan mereka. Selesai secara ikhtishar.”

Ini adalah hal yang tidak dibantah, kecuali oleh orang yang hobi membantah, bahkan ia adalah lebih penting dan lebih urgent dari Tauhidul Asma wash Shifat yang dijadikan oleh adiyaus salafiyyah (para pengaku salafiy) saat ini sebagai ushuluddin yang paling penting, di mana bila disebut nama aqidah di sisinya, maka ia membawanya kepada Al Asma wash Shifat, dan bila ia menyebut akidah, maka sesungguhnya ia baginya hanya satu (yaitu) Tauhidul Asma wash Shifat...!!!

Oleh sebab itu, sesungguhnya engkau mendapatkan banyak dari mereka mensifati sebagian yang lain dengan ucapannya: Fulan!! Alangkah bagusnya dia dan alangkah pandainya dia!! Sesungguhnya dia itu salafiyyul aqidah!! seraya mereka memaksudkan bab ini dari bab-bab itiqad dan beserta hal itu tidaklah berbahaya bagi mereka bila si fulan tersebut tergolong anshar thaghut atau penasehatnya...!!! Atau pengagumnya atau pendukungnya yang mendoakan baginya agar tetap jaya dan panjang umur bagi kekuasaannya...!!! Walaupun dia itu termasuk dewan legislatif yang musyrik di majelis-majelis syiriknya (parlemen).

Sungguhnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah telah berkata:

( فالواجب أن نثبت ما أثبته الكتاب والسنة وننفي ما نفاه الكتاب والسنة ،واللفظ المجمل الذي لم يرد في الكتاب والسنة لا يطلق فيه النفي والاثبات حتى يتبين المراد منه ) أهـ مجموع الفتاوى ( 7/663)

“Maka yang wajib adalah kita menetapkan apa yang telah ditetapkan Al Kitab dan As Sunnah dan kita menafikan apa yang dinafikan Al Kitab dan As Sunnah. Sedangkan lafazh yang mujmal (global) yang tidak ada dalam Al Kitab dan As Sunnah, maka tidak dinyatakan padanya penafian dan penetapan sehingga jelas maksud darinya.” (Majmu Al Fatawa 7/663).

Dan beliau berkata lagi (12/114):

( وأما الألفاظ التي ليست في الكتاب والسنة ولا اتفق السلف على نفيها أو اثباتها فهذه ليس على أحد أن يوافق من نفاها أو أثبتها حتى يستفسر عن مراده ، فإن أراد بها معنى يوافق خبر الرسول صلى الله عليه وسلم أقر به وإن أراد بها معنى يخالف خبر الرسول صلى الله عليه وسلم أنكره ) أهـ.

“Dan adapun lafazh-lafazh yang tidak ada dalam Al Kitab dan As Sunnah serta tidak disepakati salaf atas penafian atau penetapannya, maka ini tidak ada kewajiban atas seorangpun untuk menyetujui orang yang menafikannya atau yang menetapkannya sehingga ia meminta penjelasan tentang maksudnya, kemudian bila dia memaksudkan dengannya makna yang selaras dengan khabar Rasulullah shalallaahu alaihi wa sallam, maka ia mengakuinya, dan bila ia memaksudkan dengannya makna yang menyelisihi khabar Rasulullah shalallaahu alaihi wa sallam, maka ia mengingkarinya.”

Bila engkau faham ini dan mengetahui yang dimaksud dari tauhidul ibadah yang diistilahkan terhadapnya atau terhadap sebagiannya oleh sekelompok dari kalangan mutaakhkhirin dengan (istilah) Hakimiyyah atau tauhidul hakimiyyah, maka nyatalah di hadapanmu bahwa tidak halal menolak atau mengingkari istilah ini, dan jelas pula di hadapanmu setelahnya talbis yang dilakukan Al Halabiy saat berkata tentang bab ini:

«وهذا عند عددٍ من أهل العلم !! مشابهة لعقائد الشيعة الشنيعة الذين جعلوا الإمامة أعظم أصول الدين!! وهو قولٌ باطلٌ ورأيٌ عاطلٌ ردّه عليهم بقوة شيخ الإسلام.. إلخ»انتهى.

“Dan ini menurut sejumlah dari ulama!! Adalah penyerupaan terhadap ‘Aqa-id Syi’ah yang sangat busuk yang menjadikan imamah sebagai ushuluddin yang paling agung...!!! Sedangkan ini adalah pendapat yang batil dan pemikiran yang gugur yang telah dibantah secara kuat oleh Syaikhul Islam...”

Sungguh sangat jauh antara tauhid yang agung ini yang kami dengung-dengungkan seputarnya dan yang mana ia adalah poros roda dakwah para nabi dan rasul dan ashluddin -walau orang yang keras kepala mencak-mencak- dengan Aqidah Imamah menurut Rafidlah, yang mana ia berisi iman kepada 12 imam ma‘shum!! Dan bahwa khilafah itu adalah hak yang dirampas dari sebagian mereka serta bahwa imam terakhir mereka adalah Al Mahdi Al Muntadhar versi mereka yang raib di gorong-gorong, yang mereka nanti-nantikan masa keluarnya untuk melakukan ini dan itu... Dan hal lainnya dari khurafat-khurafat mereka yang mereka jadikan sebagai syarat bagi iman dan rukun yang ke enam dari Arkanul Islam di mana orang yang tidak meyakininya dikafirkan.

والله ما التقيا ولن يتشابها
حتى تشيب مفارق الغربان

Demi Allah, keduanya tidak akan bertemu dan tidak akan serupa.
Sampai leher gagak beruban.

Kebatilan yang akhir ini adalah termasuk Khurafat Rafidlah, ia adalah yang dibantah oleh Syaikhul Islam dalam Minhajus Sunnah, yang pada dasarnya beliau susun sebagai bantahan terhadap salah seorang ulama Rafidlah sehingga sebagian ulama menamakannya Ar Raddu ‘alar Rafidliy, dan di antaranya tempat yang diisyaratkan kepadanya oleh Al Halabiy dalam rangka talbis, agar membuat image di hadapan para pengekor bahwa Syaikhul Islam dalam Minhajus Sunnah membantah kepada orang-orang yang mengatakan pentingnya penerapan syariat Allah, perealisasian tauhidullah Subhanahu Wa Taala dalam thaah, pemurnian tasyri dan hukum bagi-Nya saja, serta mengeluarkan manusia dari penghambaan terhadap makhluk kepada ibadatullah saja!! Hal ini tidak seorang pun menyelisihinya, baik Syaikhul Islam maupun para ulama dan imam lainnya. Tidak ada yang membaurkan antara ini dengan aqidah imamah manurut Rafidlah, kecuali orang-orang yang bodoh lagi sesat atau orang-orang yang membuat pengkaburan yang mengetahui perbedaan dan sengaja melakukan tadlis dan talbis... Oh, kerinduanku atas dinul Islam (yang bersih) dari orang-orang yang mengkhianati amanah ilmu, dan mengkaburkan al haq dengan al bathil serta menyembunyikan al haq sedang mereka mengetahui. Bagaimana pun juga sesungguhnya talbis ini bukan dari pengada-adaan Al Halabiy, namun ia telah taqlid dan mengikuti gurunya Rabi Ibnu Hadi Al Madkhaliy dan tidak lain dialah yang dimaksudkan di sini dengan ucapannya: “Dan ini menurut sejumlah dari ulama adalah penyerupaan terhadap aqa-id Syiah...” Sungguh Al Halabiy telah didahului oleh Al Madkhaliy dengan talbis ini saat ia menuturkan dan menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang diisyaratkan oleh Al Halabiy kepadanya dari Minhajus Sunnah dalam bantahannya terhadap Aqidah Imamah menurut Rafidlah, dia (Al Madkhali) tuturkan semuanya termasuk bantahannya atas klaim mereka bahwa imamah adalah salah satu rukun iman dengan satu syarat dari syarat-syarat Islam yang mana iman tidak sah kecuali dengannya seraya tidak malu menempatkan itu semuanya pada konteks bantahannya terhadap orang yang memperbesar status penegakkan Imamah dan Khilafah Rasyidah di muka bumi seraya mengingkari pensifatannya terhadapnya bahwa ia adalah tujuan dien karena hal itu menurut klaimnya adalah menyelisihi apa yang sudah malum bahwa tujuan dien sebenarnya, yang karenanya jin dan manusia diciptakan dan dengannya semua rasul diutus, adalah hanya pemurnian ibadah kepada Allah saja, dan dia lalai atau pura-pura tidak tahu bahwa fungsi terbesar Imamah Rasyidah bukan Imamah Fahd (pemimpin dia) adalah mengeluarkan manusia dari peribadatan terhadap makhluk kepada ibadatullah saja dengan cara mentauhidkan-Nya Subhanahu wa Ta'ala dengan seluruh macam ibadah, dan di antaranya adalah memurnikan penyandaran tahlil, tahrim, dan tasyri‘ kepada-Nya saja. Dan itu dalam Kitabnya (Manhajul Anbiya fid Dakwah Ilallah fi hil Hikmah wal Aql), lihat halaman 108 dst. dan dalam cetakan baru halaman 144 dst.

Kontradiksi dan pertentangan yang kusut ini hanyalah terjadi karena dia (Al Madkhali) dan yang sepemahaman dengan dia membatasi syirik yang menggugurkan pemurnian ibadah kepada Allah Ta'ala hanya pada Syirik Kubah, tempat-tempat yang dikeramatkan dan kuburan, adapun Syirik Qushur (istana/parlemen), yaitu pembuatan qawanin dan dustur, maka itu tidak membahayakan tauhid atau pemurnian ibadatullah menurut mereka, karena ia adalah kufrun duna kufrin...!!!

Sedangkan Al Halabiy mengadopsi sikap ngawur itu, mengisyaratkan kepadanya, bahagia dengannya, dan mengikutinya tanpa menisbatkannya kepada pemiliknya, bahkan dia justru membuat dugaan bahwa ini adalah pendapat sejumlah dari ulama...!!! Kenapa dia tidak menunjukkan mereka (para ulama) itu kepada Kita...???!!! Atau menyebutkan kepada kita nama selain temannya, Al Madkhali ini...!!! Maka silahkan cantumkan ini pada daftar tahwilat dan tadlisatnya...!!!

[Disalin dari Penjelasan bagi Orang-Orang yang Berakal Perihal Manipulasi Sekte Jahmiyyah dan Murji‘ah karya Syaikh ‘Isham Al Burqawi terjemahan Abu Sulaiman, hal. 15-20] Dan kakek beliau Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata:

Alfatawa.ID | @alfatawaid