Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Benarkah Istilah Tauhid Hakimiyyah Itu Bidah? (Bag. 1)

Oleh Syaikh ‘Isham bin Muhammad al-Burqawi

Al Halabi berkata dalam mukadimahnya (hal. 3):

(فهذه رسالة موجزة مختصرة في مسألة الحكم) ثم قال في الهامش: «والبعض يطلق عليها اسم (الحاكمية) وهو مصطلح حادث فيه بحث ونظر ثم يجعل ذلك أهمّ أصول الدين! وأعظم أبواب الملّة بحيث إذا ذُكرت العقيدة (عنده) فإنِّه يحملها على (الحاكمية).. إلى قوله: وهذا عند عدد من أهل العلم !! مشابهة لعقائد الشيعة الشنيعة الذين جعلوا الإمامة أعظم أصول الدين!! وهو قول باطل ورأي عاطل ردّه عليهم بقوة شيخ الإسلام رحمه الله تعالى الإمام ابن تيمية في منهاج السُنّة (1/20-29) فانظره»انتهى.

(Ini adalah risalah singkat dan ringkasan dalam masalah hukum). Dia berkata dalam catatan kaki: (dan sebagian menyebutnya dengan nama “Al Hakimiyyah”, sedang itu adalah istilah baru yang di dalamnya ada pembahasan dan pengkajian, kemudian dia menjadikan hal itu sebagai ushuluddien yang paling penting!! Dan isi-isi millah ini yang paling agung, sehingga bila aqidah disebutkan (di sisinya) maka ia membawanya kepada (Al Hakimiyyah) ~hingga ucapannya~: Dan ini menurut sejumlah dari ulama!!! Adalah penyerupaan terhadap Aqa-id syiah yang sangat busuk yang menjadikan imamah sebagai ushuluddien yang paling agung!! Sedangkan hal tersebut adalah pendapat yang batil dan pemikiran yang gugur yang telah dibantah secara kuat oleh Syaikhul Islam rahimahullaah Al Imam Ibnu Taimiyyah dalam Minhajus Sunnah 1/20-29, maka silahkan lihat).

Ucapannya (Al Halabiy.ed) tentang Al Hakimiyyah: Istilah baru yang di dalamnya ada pembahasan dan pengkajian dan ucapannya setelah itu pada halaman 4, catatan kaki (bagi.ed) catatan kakinya!!

«بل الأعجب من ذلك أنَّ بعضاً آخر اخترع ما سمّاه بـ (توحيد الحاكمية) ثم لم يكتف بذلك حتى جعله قسماً رابعاً من أقسام التوحيد المعروفة!! وليس له في ذلك أدنى سلف من سلف!!! وإنمّا هو من آراء ومحدثات الخلق»انتهى.

“Bahkan yang lebih mengherankan dari itu bahwa sebagian yang lain mengada-adakan apa yang dia samakan dengan (tauhidul hakimiyyah) kemudian dia tidak merasa cukup dengan hal itu sampai ia menjadikannya sebagai bagian ke empat dari bagian-bagian tauhid yang terkenal!!! Dan dalam hal itu ia tidak memiliki seorang salaf pun yang mendahuluinya...???!!! Namun, ia hanyalah bersumber dari pendapat dan hal-hal yang diada-adakan manusia.”

Saya katakan: Di antara penamaan-penamaan itu ada yang tauqifi (sesuai nash) yang tidak boleh dirubah atau diganti seperti nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, nama-nama Iman dan Islam, ketentuan-ketentuan hudud, nishab-nishab, faraidl dan hal-hal lainnya yang telah Allah gariskan dan Dia tetapkan, atau telah Allah Subhanahu Wa Taala namakan dengan nama-nama tertentu, atau Dia jadikan baginya bentuk-bentuk, ukuran-ukuran dan tata cara tertentu.

Di antaranya ada yang bersifat ishthilah, yaitu kelompok tertentu bersepakat terhadap suatu yang dikenal di antara mereka, yang di dalamnya tidak ada perselisihan terhadap suatu perintah dari perintah-perintah Allah.

Para ulama kita telah menegaskan bahwa (tidak ada penyudutan dalam hal istilah) namun yang penting adalah tidak (boleh) bersepakat atas hal bidah atau kesesatan atau tasyri (aturan) atau undang-undang yang menyelisihi dienullah.

Ishthilah itu bisa saja untuk talim (mengajarkan) atau untuk mempermudah pencernaan ilmu, penghafalan matan dan penguasaan definisi-definisi bagi para siswa, maka tidak ada penyudutan (penyelisihan) dalam hal seperti ini dan diperbolehkan. Dan para ulama masih senantiasa melakukan hal itu tanpa saling mengingkari, karena dalam hal itu yang diperhatikan adalah makna bukan lafazh.

Dan bisa saja untuk melegalkan bidah atau kesesatan seperti ishthilah Khawarij dan Mutazilah atas pengekalan pelaku dosa besar di neraka dan ishthilah (kesepakatan) mereka atas penyebutan selain Quraisyiy dari kalangan umara sebagai Amirul Muminin dan imamul muslimin atau seperti orang-orang yang menyebut bidah mereka dengan lafazh tauhid atau Ashluddin dan Al Fiqhul Akbar serta hal lain yang serupa, seperti Jahmiyyah, Mutazilah dan yang lainnya dari kalangan Ahlul Kalam atau ishthilah (kesepakatan) terhadap dien atau syariat (ajaran) atau had (sanksi hukum) yang dibuat-buat, yang tidak Allah turunkan dalil tentangnya. Di antara jenis ini adalah ishthilah (kesepakatan) kaum Yahudi terhadap tahmim (pencorengan wajah) dan dera sebagaimana pengganti rajam, dan kesepakatan budak undang-undang pada zaman kita ini terhadap aturan-aturan dan sanksi-sanksi kufur, serta kesepakatan (ishthilah) mereka terhadap penamaan arbab (tuhan-tuhan) mereka yang beraneka ragam sebagai musyarri/legislatif dan terhadap penyebutan undang-undang kafir mereka sebagai keadilan, atau seperti penggunaan sebagian orang akan lafazh “tauhid” dalam ungkapan mereka tentang persatuan nasional yang jahiliyyah yang mereka gembor-gemborkan dan yang mempersaudarakan antara berbagai agama serta berbenturan dengan tauhid para Rasul, maka macam ishthilah ini adalah yang tercela lagi bidah dan tertolak. Sedangkan Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

(منْ أحدثَ في أمرِنا هذا ما ليس منهُ فهو ردّ).

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini suatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.”

Walaupun saya tidak mempergunakan lafazh “Al Hakimiyyah atau Tauhid Al Hakimiyyah, akan tetapi saya tidak melihat di dalamnya suatu yang menentang syariat, selama madlul (apa yang diindikasikan)nya menjadikan Allah ridla, terutama sesungguhnya setiap orang yang memiliki sedikit dari ilmu, dia mengetahui bahwa pembagian tauhid yang tiga, yang sudah diishthilahkan terhadapnya, yaitu: Tauhidur Rububiyyah, Tauhidul Uluhiyyah dan Tauhidul Asma Washshifat bukanlah nama-nama yang taufiqiy dari Allah seperti mushthalah (penamaan) shalat, zakat, iman, Islam dan ihsan umpamanya, namun hal tersebut adalah penamaan-penamaan yang tidak terbagi seperti bagian-bagian ini pada zaman sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sehingga bisa dikatakan bahwa orang yang membuat suatu ishthilah selain ini maka dia telah berbuat bidah dan berpaling dari tuntunan salaf atau dia telah mengikuti pendapat-pendapat dan pemikiran baru kaum Khalaf atau hal selain itu yang dikecam Al Halabiy.

Umpamanya Tauhidul Uluhiyyah dinamakan oleh ulama kita, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim, terkadang dengan tauhidul iradah wal qashd dan terkadang dengan tauhiduththalab, dan terkadang dengan tauhidul amaliy, dan terkadang dengan tauhidusy syari serta terkadang dengan tauhidullah bi afaalil ibaad.

Sebagaimana mereka menamakan tauhidul asma wash shifat dan tauhidur Rububiyyah dengan tauhid ilmiy atau khabariy atau tauhidul marifah wal itsbat atau tauhidullah bi afalihi wa asmaihi wa shifatihi.

Semua ini tidak apa-apa (ada) di dalamnya dan tidak ada penyudutan, kami tidak mengingkarinya atau mengecam terhadap orang-orang yang menyelisihi kami dalam ishthilah di dalamnya selagi ia haq, karena ia tidak lebih dari sekedar ikhtilaf tanawwu (perbedaan yang bersifat macam-macam yang intinya sama) selama makna yang dimaksud dari ishthilah itu adalah haq. Ibnu Abil Izzi Al Hanafiy berkata dalam Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyyah saat berbicara tentang ikhtilaf tanawwu (hal. 514), beliau berkata:

( ومنه ما يكون كل من القولين هو في معنى القول الآخر ، لكن العبارتان مختلفتان كما قد يختلف كثير من الناس في ألفاظ الحدود وصيغ الأدلة ، والتعبير عن المسميات ونحو ذلك ، ثم الجهل أوالظلم يحمل على حمد إحدى المقالتين وذمّ الأخرى والاعتداء على قائلها !..) أهـ .

“Dan di antaranya ada suatu yang mana masing-masing dari dua pendapat itu semakna dengan makna pendapat yang lainnya, namun dua ungkapan itu berbeda sebagaimana terkadang banyak dari manusia berselisih tentang lafazh-lafazh hudud dan bentuk-bentuk dalil, serta pengungkapan dari penamaan-penamaan dan yang lainnya, kemudian kejahilan atau kezaliman membawa (orang) untuk memuji salah satu dari dua pendapat itu dan mencela yang lainnya serta aniaya terhadap orang yang mengatakannya!”

Mushthalah (istilah) Tauhidul Hakimiyyah -yang digembar-gemborkan oleh Al Halabiy serta kejahilan dan kezhalimannya membawa dia untuk mencelanya dan menganiaya kepada orang yang mengatakannya- biasanya dipakai oleh orang yang menggunakannya kepada tauhidullah Ta'ala dalam tasyri (penyandaran wewenang pembuatan hukum) sedangkan ia termasuk tauhidullah dalam ibadah.

Asy Syinqithiy berkata dalam Kitabnya Adlwaul Bayan:

«الإشراك بالله في حُكمه كالإشراك به في عبادته» انتهى.

“Penyekutuan Allah dalam hukum-Nya adalah seperti penyekutuan-Nya dalam ibadah-Nya.”

Karena di antara makna ibadah yang wajib dimurnikan seluruhnya kepada Allah ta’ala saja adalah taat dalam tasyri’ dan hukum, Allah taala berfirman:

“Dan sesungguhnya syaithan mewahyukan kepada wali-walinya supaya mereka membantah kamu, dan bila kamu menuruti mereka maka sesungguhnya kamu adalah orang-orang musyrik.” (Al An‘am: 121).

Al Hakim meriwayatkan dengan isnad yang shahih dari Ibnu Abbas Habrul Quran tentang sebab turun ayat ini:

«إنَّ ناساً من المشركين كانوا يُجادلون المسلمين في مسألة الذبح وتحريم الميتة، فيقولون: تأكلون ممّا قتلتم ولا تأكلون ممّا قتل الله؟ فقال تعالى: (وإن أطعتموهم إنكم لمشركون(.

“Sesungguhnya segolongan orang dari kaum musyrikin dahulu membantah kaum muslimin dalam masalah sembelihan dan pengharaman bangkai, di mana mereka berkata: Kalian makan dari apa yang kalian bunuh dan tidak makan dari apa yang Allah bunuh? Maka Allah taala berfirman: ...dan bila kamu menuruti mereka, maka sesungguhnya kamu adalah orang-orang musyrik.”

Allah taala berfirman:

“Dan Dia tidak mempersekutukan seorangpun dalam hukum-Nya,” (Al Kahfi: 26)

Dan dalam qiraah Ibnu Amir:

ولا تُشرك في حكمه أحدا

“Dan janganlah kamu mempersekutukan seorangpun dalam hukum-Nya.”

Asy Syinqithiy berkata dalam Adlwaul Bayan:

«يُفهم من هذه الآيات كقوله تعالى: (ولا يُشرك في حكمه أحداً( أنَّ مُتبعي أحكام المشرعين غير ما شرعه الله أنّهم مشركون بالله«.

“Dipahami dari ayat-ayat ini seperti firman-Nya taala: Dan Dia tidak mempersekutukan seorangpun dalam hukum-Nya, bahwa orang-orang yang mengikuti ahkam (aturan-aturan) al musyarriin (para pembuat hukum) selain apa yang telah Allah syariatkan sesungguhnya mereka itu adalah musyrikun billah.”

Dan beliau menuturkan ayat-ayat yang menjelaskan hal itu, kemudian berkata:

وبهذه النصوص السماوية التي ذكرنا يظهر غاية الظهور أنَّ الذين يتبعون القوانين الوضعية التي شرعها الشيطان على ألسنة أوليائه، مخالفة لما شرعه الله جل وعلا على ألسنة رسله أنّه لا يشك في كفرهم وشركهم إلاّ من طمس الله بصيرته وأعماه عن نور الوحي مثلهم «

“Dan dengan nushush samawiyyah yang telah kami sebutkan, nampaklah dengan sejelas-jelasnya bahwa orang-orang yang mengikuti qawanin wadliyyah (undang-undang buatan,ed) yang disyariatkan syaithan lewat lisan wali-walinya, seraya menyelisihi apa yang disyariatkan Allah Jalla Wa Alaa lewat lisan rasul-rasul-Nya, adalah sesungguhnya tidak ada yang meragukan kekafiran mereka dan kemusyrikannya, kecuali orang yang telah Allah hapus bashirah (mata hati) nya dan Dia butakan dari cahaya wahyu seperti mereka.” (Adlwaul Bayan 4/83).

Perhatikanlah hal ini dan hati-hatilah kamu tergolong orang yang Allah butakan dari cahaya wahyu...!!!

Dan Dia taala berfirman:

“Mereka telah menjadikan alim ulama dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah...” (QS. At Taubah [9]: 31).

Sedangkan sudah malum bahwa penafsirannya dalam al ma-tsur: bahwa ibadah kepada mereka itu adalah menuruti mereka dan mengikuti mereka dalam tahlil, tahrim dan tasyri. Dan di dalam Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab:

(باب من أطاع العلماء والأمراء في تحريم ما أحلّ الله أو تحليل ما حرّم الله فقد اتخذهم أرباباً من دون الله).

“Bab siapa yang menuruti ulama dan umara dalam tahrim (pengharaman) apa yang telah Allah halalkan atau tahli (penghalalan) apa yang telah Allah haramkan, maka ia telah menjadikan mereka arbab selain Allah.”

Kemudian dalam bab itu beliau menuturkan ayat Surat At Taubah: 31, dan hadits Addiy Ibnu Hatim dalam tafsirannya.

Baik hal ini dinamakan oleh orang yang menamakannya sebagai Tauhidul Ibadah atau Tauhidul Uluhiyyah atau Tauhidsysyari atau Tasyri atau Tauhiduth thaah atau Tauhidul Hakimiyyah atau yang lainnya, maka tidak ada saling menyudutkan dalam ishthilah.

Dari ini engkau mengetahui bahwa yang perlu diingkari adalah (pengingkaran Al Halabiy kepada (sikap) menjadikan hal itu sebagai ushuluddien yang paling penting dan Abwabul Millah yang paling urgent...!!!)

Baca bagian kedua: Benarkah Istilah Tauhid Hakimiyyah Itu Bidah? (Bag. 2)

[Disalin dari Penjelasan bagi Orang-Orang yang Berakal Perihal Manipulasi Sekte Jahmiyyah dan Murji‘ah karya Syaikh ‘Isham Al Burqawi terjemahan Abu Sulaiman, hal. 11-15]

Alfatawa.ID | @alfatawaid