Ingin amal jariah mendukung dakwah Islam Ahlus Sunnah di media sosial? Thayyib. Klik di sini sekarang!

Antara Dakwah Najdiyyah dan Dakwah Syamiyyah

Oleh Syaikh Syarif al-Hasan bin ‘Ali al-Kattani

Di antara gerakan Islam paling kuat yang muncul pada abad belakangan ini adalah gerakan Najdiyyah yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab At Tamimi An Najdi di negeri Najd tengah-tengah Jazirah 'Arab. Gerakan ini sangat terkesan dengan kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan para muridnya disertai mengambil mazhab Hambali dalam cabang fikih. Namun bagi mereka yang menjadi pemerhati sastra dakwah ini dan gerakannya secara sejarah terdapat banyak perbedaan antara dirinya dengan dakwah Syamiyyah yang dipimpin oleh Ibnu Taimiyyah, perbedaan-perbedaan ini akan saya sebutkan setelah saya sampaikan kelebihan dakwah dan gerakan ini serta dampaknya dalam kehidupan nyata.

Bisa dipastikan bahwa berbagai perbedaan ini muncul karena dakwah ini datang pada masa akhir, suatu masa yang didalamnya sebagian besar kaum muslimin di seluruh muka bumi mengalami perselisihan dan kabut besar pada akidah mereka serta pandangan pemikiran mereka yang terjerumus pada amalan kesyirikan dan bidah besar yang menyamarkan keindahan agama, maka gerakan ini menyeru untuk kembali kepada tauhid yang bersih dari kesyirikan dan penerapan syariat serta membuang kebidahan dan hal-hal baru yang telah menyamarkan keindahan Islam, dan mengharuskan manusia untuk berjihad di bawah tajamnya pedang, dakwah ini dalam menyebarkan pemikirannya membantu terbangunnya Alu Sa'ud, dan mendasarkan negara mereka di atas sinar pemikiran ini serta penunjukan mereka atas ulama-ulama dakwah, sebaliknya ulama berjanji untuk loyal kepada Alu Sa'ud dan menganggap mereka sebagai pemimpin dan imam kaum muslimin.

Negara Sa'udi itu ada tiga periode, pertama sampai beberapa kali berubah wajah hingga intervensi negara 'Utsmaniyyah dan menghancurkannya di ibukota Najd, yaitu Dir’iyyah, pada tahun 1233. Kedua, memilih terpisah dengan adanya perselisihan antara Alu Sa'ud dan saling berperang yang dapat mengembalikan negara 'Utsmaniyyah dan para penolongnya ke negeri mereka. Ketiga, negara sekarang ini yang telah memiliki persenjataan dan membuat garis batas pada tahun 1350 dan dinamakan dengan Kerajaan 'Arab Sa'udi (Mamlakah Al Arabiyyah As Su’udiyyah) dan memiliki keistimewaan dengan menyebarkan kitab-kitab salaf, membangun universitas-universitas, dan mendukung pemikirannya di luar negerinya.

Hasil dari ini semua adalah tersebarnya manhaj Salafi dalam bentuk yang lebih umum dan luas dan kembalinya sebagian besar sunah dan hilangnya bidah, namun dakwah dan gerakan Najdiyyah ini berbeda dengan gerakan dakwah Syamiyyah (Syam) yang dibawa oleh Al Imam Ibnu Taimiyyah dalam perkara-perkara yang berbahaya dan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa diterima, inilah yang seharusnya para ulama menguasai pencerahannya dan mengkritisinya, kesalahan itu adalah ketidakadaan udzur bil jahl yang dianggap sebagai ashlud din (dasar dan pokok agama), dan setiap orang yang terjerumus pada kesyirikan, maka dia musyrik bukan muslim sebelum ditegakkan hujah, jika mati maka dia di bawah kehendak Allah Ta’ala seperti ahli fatrah, dan siapa yang sudah ditegakkan hujah, maka dia kafir murtad seperti orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar radhiallahu'anhu dan hujah yang ditegakkan atas manusia sekadar tersampainya kabar padanya meskipun dia tidak memahaminya, setiap penakwil sifat adalah Jahmiyyah dan setiap Jahmiyyah kafir dengan adanya 500 saksi dari para imam salaf sebagaimana yang dinukil oleh Al Lalika'i, dan setiap orang yang mendengar dakwah lalu ia memeranginya atau menentangnya atau tidak perhatian dengannya, maka dia murtad, adapun yang loyal kepadanya meskipun karena takut, maka dia juga murtad, barang siapa yang bodoh dalam masalah tauhid, maka dia murtad, xan hasil dari kaidah-kaidah ini adalah orang-orang 'Arab yang bodoh adalah kafir, orang-orang Shufi, Asy’ariyyah, Zaidiyyah, Syi’ah, dan 'Ibadhiyyah semuanya kafir, dan para ulama mazhab Hambali yang menentang ke-ghuluw-annya dakwah ini juga dianggap kafir, Kekhalifahan 'Utsmaniyyah dianggap sebagai pelindung kesyirikan secara mutlak, maka kekhalifahan ini dianggap kafir dan tentaranya, pembelanya dan para ulamanya serta orang-orang yang loyal kepadanya semuanya dianggap kafir.

Anda pasti akan heran jika mengetahui bahwa orang-orang Najd itu belum pernah memerangi orang kafir asli selamanya, akan tetapi semua peperangannya adalah melawan kaum (murtad), atau seluruh perkataan mereka tentang loyalitas kepada orang kafir, maksudnya adalah negara 'Utsmaniyyah, ketika mereka menjajah pinggiran Pantai Jazirah mereka memperbaiki keislamannya (mengislamkan kembali) para penduduk pantai tersebut, dan yang mengherankan dari orang-orang Najd ini adalah sikap mereka yang mengafirkan orang yang menyelisihi kekuasaan mereka meskipun ia seorang muslim Salafi, mereka mengafirkan Alu Rasyid dan mengafirkan Al Ikhwan Man Athaillah karena ia keluar dari kerajaan 'Abdul 'Aziz dan menghalalkan darah mereka. Buku-buku sejarah mereka mengingatkan kita kepada Ibnu Ghanam dan Ibnu Basyar bahwa mereka memasuki sebuah desa lalu mereka membunuh setiap orang yang ada di jalan mereka dan mengambil harta mereka sebagai ganimah dan dalam sejarah-sejarah lain disebutkan bahwa mereka menjadikan wanita sebagai rampasan.

Pandangan orang-orang Najd mulai lurus pada akhir-akhir negara mereka yang kedua, mereka mengubah dan mempelajarinya, inilah di antara yang menjelaskan kepada Anda tentang sebab marahnya Ishaq bin 'Abdurrahman dalam risalahnya Takfir Mu'ayyan. Kemudian di dalam negara modern mereka banyak sekali berubah kepada manhaj Ibnu Taimiyyah dan dakwah Syamiyyah-nya, di antara sebab hal itu semisal Syaikh As Sa’di dan madrasahnya dan karena bercampur dengan Persaudaraan Muslim (Ikhwanul Muslimin) dan orang-orang yang aktif dalam gerakan-gerakan Islam serta dakwahnya Syaikh Al Albani yang menentang ghuluw fit takfir. Telah terjadi tukar pemikiran antara para pemikir Ikhwan dan tokoh Salafi melalui beberapa tahapan, Imam Al Banna sendiri terkesan dengan pemikiran Salafi sebagaimana hal itu nampak dalam 20 dasar miliknya, kemudian setelah terjadi ujian pada gerakan Al Ikhwan, maka muncul generasi baru dari para pemuda yang membawa pemikiran Islam dengan mengambil manhaj Salafi dan hal itu tampak jelas dalam jemaah-jemaah jihad di Mesir yang banyak sekali bersandar kepada kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan mengambil sebagian kitab-kitab Najd dalam beberapa masalah tanpa mengetahui masalah-masalah yang menyelisihi manhaj Ibnu Taimiyyah sehingga mereka memahami kitab-kitab Najd melalui manhaj Ibnu Taimiyyah. Allahumma… kecuali masalah-masalah udzur bil jahl (uzur karena kebodohan) dan al wala wal bara’ khususnya oleh para ekstremis (ghuluw) yang menjadi catatan bagi gerakan Islam dan tidak seorang pun dari para pimpinan amal jihad yang mendasarkan pada seluruh pemikiran-pemikiran Najd dan tidak menelaahnya secara mendalam. Akan tetapi pemikiran jihad berdiri di atas tulisan-tulisan para tokoh gerakan Islam modern yang besar dan tulisan-tulisan Ibnu Taimiyyah serta para muridnya.

Penulis: Syarif Al Hasan Al Kattani
Penerjemah: Ibnu Qalami

Alfatawa.ID | @alfatawaid